Prof drh Amrozi Ungkap Revolusi Teknologi Reproduksi Kuda Pacu Indonesia

Prof drh Amrozi Ungkap Revolusi Teknologi Reproduksi Kuda Pacu Indonesia

prof-drh-amrozi-ungkap-revolusi-teknologi-reproduksi-kuda-pacu-indonesia.jpg
Ilustrasi kuda pacu (freepik)
Riset dan Kepakaran

Industri peternakan kuda nasional mengalami transformasi besar melalui sentuhan teknologi reproduksi canggih. Dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, Sabtu (24/1), Prof drh Amrozi memaparkan kemajuan pesat populasi kuda. 

Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University ini menyoroti peran penting teknologi reproduksi untuk meningkatkan populasi dan kualitas kuda.

Ia menjelaskan bahwa populasi kuda berkualitas meningkat signifikan sejak tahun 2006 lalu. Kenaikan jumlah kuda hebat terlihat jelas pada babak penyisihan ajang bergengsi ‘Indonesian Derby’. Pertumbuhan ini memberikan dampak ekonomi yang sangat positif bagi industri olahraga berkuda nasional.

“Penyisihan untuk kelas paling hebat kudanya sudah mencapai empat race saat tahun 2025,” ungkapnya.

Keberhasilan ini bermula dari penggunaan ultrasonografi (USG) untuk menentukan waktu tepat proses perkawinan kuda. Prof drh Amrozi menekankan bahwa teknik inseminasi buatan jauh lebih aman bagi keselamatan kuda. Akurasi kebuntingan juga menjadi lebih terjamin melalui bantuan alat pemantauan status reproduksi yang modern.

“Inseminasi buatan ini aman karena pejantan agresif kadang menyebabkan cedera atau bahkan meninggal,” tambah dia.

Teknologi terus berkembang melalui program Transfer Embrio yang melibatkan laboratorium canggih. Program inovatif ini telah berjalan sejak tahun 2022 bersama Aragon Stable dan King Halim. Kerja sama ini dilakukan di Unit Rehabilitasi Reproduksi serta laboratorium Assisted Reproductive Technology.

“Kuda tetap bertanding tapi embrio diambil kemudian kita tanamkan di kuda yang lain,” imbuhnya.

Teknik tersebut memungkinkan kuda atlet tetap bertanding sambil memproduksi keturunan unggul melalui resipien. Indonesia kini memiliki Kuda Pacu Indonesia yang merupakan hasil persilangan hingga generasi ketujuh. Bibit unggul ini menjadi kebanggaan nasional yang setara dengan kualitas kuda hebat luar negeri.

“Artinya sudah ada peningkatan populasi kuda berkualitas hampir dua ratus persen bagi masyarakat,” imbuhnya.

Upaya peningkatan kualitas genetik ini juga didukung melalui kaderisasi dokter hewan di lingkungan kampus. Prof drh Amrozi berharap keahlian reproduksi kuda tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia. Ia ingin seluruh sentra kuda memiliki tenaga ahli kesehatan reproduksi yang mumpuni.

“Proses kaderisasi bagi pertumbuhan dokter hewan bidang kuda juga merupakan hal sangat penting,” tutupnya. (MW)