Bantu Petani Atasi Serangan Jamur di Musim Hujan, Mahasiswa KKN IPB University Suguhkan Fungisida Jadam Sulfur

Bantu Petani Atasi Serangan Jamur di Musim Hujan, Mahasiswa KKN IPB University Suguhkan Fungisida Jadam Sulfur

tertarik-jalin-kerja-sama-mpok-sylvi-sebut-ipb-university-sebagai-ibu-inovasi-indonesia
Pengabdian Masyarakat / Student Insight

Fungisida Jadam Sulfur, menjadi inovasi yang diusung oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi IPB University untuk mendorong kemandirian petani di Desa Cikondang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Program ini dirancang sebagai upaya pengenalan fungisida alternatif berbahan dasar sulfur atau belerang yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Jadam sulfur merupakan formulasi pestisida organik yang dikembangkan dari konsep “Jadam” (Jayonul Damun Saramdul) asal Korea Selatan. Dengan prinsip biaya murah, bahan mudah diperoleh, serta dapat dibuat secara mandiri oleh petani. Selain biaya yang murah, produksi jadam sulfur minim risiko residu kimia, serta dampak lingkungan yang relatif lebih aman bagi tanah.

“Jadam sulfur merupakan alternatif fungisida yang aman dan dapat dibuat sendiri oleh petani dengan bahan yang mudah diperoleh,” ujar Khairunnisa Lastanti Putri, mahasiswa Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB University sekaligus anggota KKNT Inovasi Desa Cikondang.

“Penggunaannya juga lebih ramah lingkungan dibandingkan fungisida kimia sintetis,” lanjutnya.

Kesesuaian program KKNT Inovasi dengan permasalahan di lapangan diungkapkan langsung oleh petani lokal. Serangan penyakit jamur pada musim penghujan selama ini dinilai menjadi kendala utama karena membutuhkan biaya pengendalian yang cukup besar.

“Kami sering kewalahan saat musim hujan karena penyakit jamur cepat menyebar dan biaya obat cukup mahal. Materi jadam sulfur ini sesuai dengan kondisi yang kami alami dan bisa jadi solusi yang lebih terjangkau,” ujar Alwi Mughni, Ketua Kelompok Tani Giritani 05, Desa Cikondang.

Erti Yulianti, Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) Desa Cikondang, juga menambahkan bahwa kesesuaian dosis dan cara aplikasi menjadi kunci keberhasilan penggunaan jadam sulfur di lapangan. 

“Jika diaplikasikan dengan benar, fungisida ini dapat membantu petani mengendalikan penyakit tanaman secara efektif dan berkelanjutan,” kata dia.

Ia berharap inovasi yang diperkenalkan melalui kegiatan KKN IPB University ini dapat terus diterapkan oleh petani setempat. 

“Dengan pendampingan yang berkelanjutan, petani dapat memanfaatkan jadam sulfur sebagai alternatif pengendalian penyakit tanaman yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan,” imbuh Erti.

Di akhir kegiatan, mahasiswa KKT Inovasi IPB University menyerahkan hasil jadam sulfur kepada kelompok tani, sebagai contoh produk siap pakai. 

Program ini diharapkan dapat mendorong kemandirian petani dalam menerapkan teknologi pertanian alternatif yang berkelanjutan dan ramah lingkungan di Desa Cikondang.