Fakultas Pertanian IPB University Pelopori Pengembangan Padi Gogo Nasional

Fakultas Pertanian IPB University Pelopori Pengembangan Padi Gogo Nasional

fakultas-pertanian-ipb-university-pelopori-pengembangan-padi-gogo-nasional
Berita / Riset dan Kepakaran

Fakultas Pertanian IPB University memelopori pengembangan dan penerapan padi gogo sebagai strategi utama dalam memperkuat sistem pangan nasional. Sepanjang tahun 2025, sistem padi gogo telah dikembangkan oleh Fakultas Pertanian IPB University di berbagai wilayah Indonesia, antara lain Pati, Gunungkidul, Bogor, Murung Raya, dan Berau.

Pengembangan padi gogo dilakukan melalui penerapan teknologi terpadu yang mencakup penggunaan varietas unggul IPB 9G, pemanfaatan mikroba untuk toleransi tanaman terhadap kekeringan serta hama dan penyakit, pengaturan kegiatan budi daya dengan automatic weather station (AWS) serta optimasi pemupukan. 

Dari hasil penerapan lapangan, produktivitas padi gogo tercatat bervariasi pada kisaran 3,5 hingga 5 ton gabah kering panen (GKP) per hektare.

Dekan Fakultas Pertanian IPB University, Prof Suryo Wiyono, menegaskan bahwa padi gogo memiliki peran strategis di tengah iklim yang semakin kering.

“Sistem padi gogo merupakan strategi utama untuk meningkatkan ketahanan pangan. Teknologinya tersedia, lahan ada, dan ke depannya Indonesia akan lebih kering. Sampai saat ini, padi gogo diperkirakan baru menyumbang sekitar 5 persen dari total produksi padi nasional, sehingga perlu ditingkatkan hingga 15 persen,” ujar Prof Suryo.

Ia menambahkan, Fakultas Pertanian IPB University akan terus memimpin pengembangan padi gogo melalui berbagai program diseminasi teknologi dan kajian sosial ekonomi.

“Dengan demikian, ke depan padi gogo dapat menjadi tulang punggung pemenuhan kebutuhan beras nasional,” tambahnya.

Dampak penerapan teknologi ini juga dirasakan langsung oleh petani. Sudargo (45 thn), petani padi gogo di Desa Ronggo, Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati, menyampaikan bahwa pendampingan teknologi telah membawa perubahan nyata.

“Kami sudah mulai menanam padi IPB 9G dan menggunakan teknologi mikroba tahan kering sejak tahun 2020 dengan pendampingan dari IPB. Sekarang, dengan penanganan yang tepat, budi daya padi gogo bisa mengimbangi dan bahkan melebihi jagung, sehingga saudara dan tetangga banyak ikut menanam padi gogo di sekitar kawasan hutan jati,” ujarnya.

Sementara itu, Prof Suwarto, Guru Besar Agronomi IPB University yang menekuni penelitian padi gogo menyampaikan, “Padi gogo merupakan potensi besar karena lahan kering yang tersedia dan sesuai di Indonesia cukup besar hingga jutaan hektar, sementara konversi sawah sangat masif.”

Ke depan, pengembangan padi gogo diharapkan semakin memperluas pemanfaatan lahan kering di Indonesia serta menjadi solusi berkelanjutan dalam menjaga ketersediaan pangan nasional. (*/Rz)