Benarkah Superflu Jenis Penyakit Baru? Ini Penjelasan Dosen FK IPB University
Dosen Fakultas Kedokteran IPB University, Dr dr Desdiani, SpP, MKK, MSc (MBioEt), menegaskan bahwa istilah superflu bukanlah nama penyakit baru, melainkan sebutan populer untuk menggambarkan peningkatan kasus influenza yang disebabkan oleh strain tertentu virus influenza.
Menurut dia, istilah superflu merujuk pada virus influenza A subtipe H3N2, khususnya subklade K, yang menyebar lebih cepat dan menyebabkan lonjakan signifikan kasus flu musiman. Hampir 90 persen kasus flu terbaru dilaporkan disebabkan oleh strain ini.
Meski demikian, Dr Desdiani menyatakan bahwa istilah tersebut tidak dimaksudkan sebagai klasifikasi ilmiah baru, tetapi untuk menyoroti perubahan perilaku virus yang terus berevolusi.
“Virus influenza terus mengalami mutasi untuk menghindari sistem kekebalan tubuh manusia. Karena itu, vaksin flu perlu diperbarui secara berkala. Subtipe influenza A/H3N2 sendiri telah ada sejak 1968 dan sudah mengalami lebih dari selusin perubahan,” ujarnya.
Meskipun musim flu tahun ini dimulai lebih awal, tingkat penyebaran dan keparahan penyakit masih berada dalam batas normal untuk musim influenza. Hal yang perlu mendapat perhatian utama, menurutnya, adalah beban terhadap sistem layanan kesehatan di berbagai wilayah, yang sangat bergantung pada aktivitas virus serta ketersediaan fasilitas dan tenaga kesehatan.
Dr Desdiani menambahkan, pemantauan influenza secara global dilakukan melalui Global Influenza Surveillance and Response System (GISRS), jaringan yang dikoordinasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan melibatkan lebih dari 160 institusi di 131 negara. Sistem ini berfungsi memantau virus influenza sepanjang tahun sekaligus menjadi peringatan dini terhadap munculnya virus baru yang berpotensi pandemi.
“Di negara tropis, aktivitas influenza relatif rendah pada Juni hingga Agustus 2025. Kasus mulai meningkat pada September dan terus naik hingga November 2025, dengan dominasi influenza A/H3N2. Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, puncak kasus terjadi pada Agustus 2025 dengan subklade K sebagai yang dominan,” jelasnya.
Berdasarkan data sekuens genetik, subklade K mengalami genetic drift, yakni perubahan genetik yang dapat memengaruhi karakteristik virus. Meski demikian, Dr Desdiani, menyebutkan bahwa jumlah kasus flu telah mencapai titik datar dan menurun stabil sejak pertengahan Desember 2025.
“Tingkat positivitas tes flu mingguan juga turun menjadi sekitar 4 persen, meski musim flu tahun ini tercatat datang satu bulan lebih awal dengan jumlah kasus tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun 2024,” paparnya.
Untuk pencegahan, ia menekankan pentingnya vaksinasi influenza. Vaksin flu terbukti menurunkan risiko kunjungan ke fasilitas kesehatan atau rawat inap akibat flu hingga 70–75 persen pada anak dan sekitar 30–40 persen pada orang dewasa.
Selain vaksinasi, masyarakat juga diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menggunakan masker saat sakit, beristirahat di rumah, serta menjaga etika batuk dan kebersihan tangan.
“Sebagian besar kasus flu memang sembuh sendiri, tetapi komplikasi serius dapat terjadi, terutama pada anak kecil, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis, dan tenaga kesehatan,” ujarnya.
Dr Desdiani menambahkan, kasus flu lebih banyak ditemukan pada kelompok anak, remaja, dan lansia. Anak dan remaja rentan karena tingginya kontak di lingkungan sekolah, sementara lansia berisiko mengalami sakit berat akibat penyakit penyerta dan penurunan fungsi kekebalan tubuh. Oleh karena itu, kewaspadaan dan upaya pencegahan tetap perlu ditingkatkan meskipun superflu bukan merupakan penyakit baru. (dh)
