Kata Ahli IPB University Soal Monyet Ekor Panjang Masuk Permukiman

Kata Ahli IPB University Soal Monyet Ekor Panjang Masuk Permukiman

kata-ahli-ipb-university-soal-monyet-ekor-panjang-masuk-permukiman
Ilustrasi monyet ekor panjang (freepik)
Berita / Riset dan Kepakaran

Dalam beberapa hari terakhir, sekelompok satwa liar khususnya monyet ekor panjang dilaporkan memasuki permukiman bahkan sejumlah ruang publik, termasuk taman di kawasan Sempur dan area Kampus IPB Dramaga.

Menanggapi hal ini, Kepala Pusat Studi Satwa Primata (PSSP) IPB University, Prof Huda S Darusman, menjelaskan bahwa fenomena tersebut merupakan bagian dari pola adaptasi primata terhadap perubahan lingkungan.

“Satwa primata adalah satwa yang paling mudah beradaptasi dan sangat cepat belajar perilaku baru,” ujarnya.

Menurutnya, meskipun saat ini musim penghujan yang umumnya menyediakan pakan alami melimpah, monyet ekor panjang tetap memilih sumber makanan yang lebih mudah dijangkau.

Prof Huda mengatakan bahwa monyet cenderung mencari sisa makanan manusia dari sampah terbuka. “Mereka memulung makanan karena itu strategi hidup yang efektif. Sampah makanan yang berserakan menjadi sumber pakan paling mudah,” jelasnya.

Populasi monyet ekor panjang telah ada di sekitar Kampus IPB Dramaga sejak tahun 1970-an. Fragmentasi habitat yang semakin masif membuat satwa semakin mendekati manusia. 

“Perubahan lahan menjadi permukiman, tempat wisata, dan pembangunan fasilitas lain memaksa kelompok primata mencari lokasi baru yang menyediakan pakan,” tutur Prof Huda.

Terkait kekhawatiran masyarakat terhadap agresivitas satwa, Prof Huda mengingatkan bahwa interaksi fisik justru berbahaya bagi kedua pihak. “Kita dan primata memiliki banyak kemiripan penyakit, sehingga gigitan dan cakaran berpotensi menularkan penyakit,” ujarnya.

“Pada dasarnya, monyet takut pada manusia. Akan tetapi, mereka dapat bereaksi agresif jika merasakan ketakutan manusia,” jelas Prof Huda.

Fenomena ini disebut bukan peristiwa pertama. Sejak 2017, PSSP IPB University mencatat sejumlah kejadian serupa dan telah melakukan penghalauan, penangkapan selektif, hingga translokasi.

Salah satu metode efektif adalah mengidentifikasi alpha male atau pemimpin kelompok. “Begitu pemimpinnya ditangkap untuk penanganan medis dan translokasi, struktur kelompok buyar dan tingkat invasi menurun,” kata Prof Huda.

Untuk langkah jangka panjang, IPB University tengah mengkaji opsi pengendalian ekosistem, termasuk menyediakan feeding point di dekat habitat asli dan reboisasi pohon pakan. Namun, menurut Prof Huda langkah ini harus dibarengi budaya membuang sampah secara tertutup.

“Kalau manusia masih menghasilkan sampah makanan terbuka, primata tetap akan kembali,” ucapnya. (dr)