Kacang Koro Pedang: Pangan Fungsional Lokal yang Siap Jadi Primadona Baru
Minat masyarakat Indonesia terhadap produk healthy food terus meningkat, terutama dalam dua dekade terakhir. Perubahan gaya hidup, tingginya paparan informasi kesehatan, serta meningkatnya kesadaran akan hubungan antara pangan dan pencegahan penyakit membuat publik mulai mencari sumber makanan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga memberikan manfaat fisiologis tambahan. Tren pangan fungsional yang sebelumnya didominasi oleh produk impor kini mulai menumbuhkan ketertarikan baru terhadap komoditas lokal.
Koro pedang merupakan tanaman polong-polongan yang telah lama dibudidayakan secara turun-temurun di berbagai wilayah Indonesia. Sayangnya, tanaman ini kerap dipandang sebagai “pangan inferior” yang kalah pamor dibanding kedelai. Padahal, saat ini, lebih dari 80 persen kebutuhan kedelai nasional masih dipenuhi dari impor, membuat harga produk berbasis kedelai semakin tidak stabil dan rentan terhadap fluktuasi global. Kondisi ini menjadi alarm bahwa Indonesia memerlukan diversifikasi sumber protein lokal yang lebih tangguh secara ekonomi maupun ekologi.
Koro pedang menyimpan potensi besar untuk dikembangkan sebagai bahan pangan alternatif atasi impor kedelai yang bernilai ekonomi maupun kesehatan. Secara nutrisi, koro pedang memiliki kadar protein tinggi mencapai lebih dari 25 persen sehingga berpotensi menjadi sumber protein nabati murah dan berkelanjutan.
Selain itu, koro pedang mengandung beragam senyawa bioaktif seperti antioksidan, peptida bioaktif, serta senyawa antimikroba alami yang berperan dalam meningkatkan sistem imun, mengurangi stres oksidatif, dan mendukung kesehatan metabolik. Karakter ini menjadikan koro pedang bukan hanya sekadar bahan pangan, tetapi pangan fungsional yang memiliki manfaat kesehatan tambahan.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai studi mulai mengungkap bahwa peptida bioaktif hasil hidrolisis protein koro pedang memiliki aktivitas antihipertensi melalui mekanisme penghambatan enzim ACE (angiotensin-converting enzyme), serta potensi antidiabetes melitus tipe 2 melalui penghambatan enzim DPP-IV (dipeptidyl peptidase-IV).
Temuan tersebut memperkuat posisi koro pedang sebagai kandidat pangan fungsional yang memberikan manfaat fisiologis relevan dengan masalah kesehatan masyarakat Indonesia saat ini. Mulai dari prevalensi hipertensi yang terus meningkat hingga angka kejadian diabetes melitus yang kian mengkhawatirkan.
Meski potensinya besar, pengembangan koro pedang masih menghadapi tantangan, yakni sifat sensori peptida bioaktif dalam pangan yang memengaruhi penerimaan konsumen seperti rasa pahit karena tingginya kandungan asam amino hidrofobik dalam protein kacang koro pedang. Oleh karena itu, optimasi proses diperlukan untuk mendapatkan keseimbangan antara bioaktivitas dan sifat sensori, khususnya tingkat kepahitan.
Seiring meningkatnya permintaan akan pangan sehat dan berkelanjutan, ini menjadi momentum strategis untuk mengangkat kembali nilai pangan lokal melalui inovasi produk berbasis koro pedang. Hal ini dapat membuka jalan bagi komoditas koro pedang untuk masuk ke pasar modern dan menjadi bagian dari gaya hidup sehat masyarakat.
Aufa Hanun Zahiyah
Mahasiswa Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan

