Masuk Daftar Ilmuwan Terbaik Dunia, Prof Farah Fahma Dosen IPB University Tekankan Pentingnya Riset Berdampak

Masuk Daftar Ilmuwan Terbaik Dunia, Prof Farah Fahma Dosen IPB University Tekankan Pentingnya Riset Berdampak

masuk-daftar-ilmuwan-terbaik-dunia-prof-farah-fahma-dosen-ipb-university-tekankan-pentingnya-riset-berdampak
Pendidikan / Prestasi

Enam peneliti IPB University berhasil masuk dalam daftar World’s Top 2% Scientists Worldwide 2025 versi Stanford University. Salah satunya adalah Prof Farah Fahma, dosen Departemen Teknologi Industri Pertanian.

Bagi Prof Farah, capaian ini merupakan bentuk apresiasi terhadap kerja keras kolektif. “Alhamdulillah, saya sangat bersyukur atas penghargaan ini. Bagi saya, capaian ini bukan semata-mata prestasi pribadi, melainkan bentuk apresiasi terhadap kerja keras dan kolaborasi banyak pihak,” ujarnya. 

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada tim riset, mahasiswa, rekan sejawat, serta IPB University yang telah menciptakan lingkungan riset yang mendukung. Menurutnya, penghargaan ini menjadi pengingat untuk terus berkontribusi sebagai dosen dan peneliti. 

“Pengakuan ini menjadi pengingat bagi saya pribadi untuk terus berkontribusi dan menjaga amanah agar keberadaan kita benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat dan ilmu pengetahuan,” tambahnya.

Prof Farah menjelaskan, perjalanan risetnya merupakan proses panjang yang penuh pembelajaran. Sejak awal, ia dan tim fokus pada pengembangan material serta teknologi berbasis sumber daya alam Indonesia yang ramah lingkungan dan bernilai tambah tinggi. 

“Bidang yang kami tekuni banyak berkaitan dengan biomaterial, biopolimer, serta penerapan teknologi nano untuk mendukung sektor pertanian dan lingkungan,” jelasnya.

Selain publikasi ilmiah, ia menekankan pentingnya membangun jejaring dan kolaborasi lintas disiplin. “Kami percaya, riset yang baik adalah riset yang menjawab kebutuhan nyata masyarakat dan memberi dampak luas. Jadi, pengakuan ini merupakan hasil kerja sama, komitmen, dan semangat inovasi,” ujarnya.

Terkait indikator penilaian Stanford University seperti jumlah sitasi, H-index, dan dampak publikasi global, Prof Farah menilai bahwa menjaga kualitas riset berawal dari niat dan ketekunan. “Kami selalu berusaha agar penelitian memiliki landasan ilmiah yang kuat serta relevan dengan isu global seperti keberlanjutan dan inovasi teknologi hijau,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya melibatkan mahasiswa agar tumbuh menjadi peneliti muda yang tangguh. “Kolaborasi menjadi hal penting, baik dengan peneliti dalam negeri maupun luar negeri. Konsistensi dan integritas ilmiah juga menjadi kunci,” ungkapnya.

Bagi IPB University, capaian ini menunjukkan kultur riset yang kuat dan kompetitif. “Ini bukti bahwa peneliti kita mampu bersaing di tingkat internasional. Penghargaan ini memotivasi kami untuk memperkuat sinergi antardisiplin agar hasil penelitian semakin relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat,” tutur Prof Farah.

Ia pun berpesan kepada peneliti muda agar tidak hanya berfokus pada publikasi. “Penelitian bukan hanya tentang sitasi, tetapi tentang manfaatnya bagi masyarakat. Nikmati setiap prosesnya, termasuk kegagalan, karena dari situlah kita tumbuh sebagai ilmuwan,” tandasnya. (Fj)