Kampus Berdampak, Inovasi IPB University ‘FONi’ Hadir di 20 Titik

Kampus Berdampak, Inovasi IPB University ‘FONi’ Hadir di 20 Titik

kampus-berdampak-inovasi-ipb-university-foni-hadir-di-20-titik
Berita / Pengabdian Masyarakat

Inovasi IPB University, Fertigator Otomatis Nirdaya (FONi), kini telah diterapkan di lebih dari 20 titik di Indonesia bahkan hingga Sabah, Malaysia. FONi merupakan sistem irigasi dan pemupukan otomatis tanpa listrik yang dikembangkan Prof Budi Indra Setiawan dari Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan.

“FONi dikembangkan sebagai sistem fertigasi inovatif yang mampu memberikan air dan nutrisi tanaman secara simultan dan akurat sesuai kebutuhan tanaman,” jelas Prof Chusnul Arif, Guru Besar Teknik Irigasi IPB University dalam Sarasehan FONi Nusantara 2025 secara daring melalui Zoom Meeting (8/11).

Ia menambahkan, “FONi mampu memenuhi kebutuhan air tanaman secara akurat, tanpa membutuhkan daya listrik. Sistemnya bekerja otomatis menggunakan klep pengatur tinggi muka air.”

Keunggulan FONi adalah penggunaan komponen lokal buatan dalam negeri, mudah dirakit dan dipindahkan. Selain itu, efisiensinya mendekati 100 persen karena air yang diberikan hanya digunakan untuk kebutuhan tanaman tanpa kehilangan yang berarti.

“Petani tidak perlu menyiram atau memberi air secara manual setiap hari. Saya pernah meninggalkan tanaman selama beberapa hari, dan tanaman tetap tumbuh dengan baik karena sistem ini mampu mengatur pasokan air secara mandiri,” ujarnya.

Implementasinya meluas ke berbagai sektor pertanian: pembibitan tanaman kehutanan di PT Arara Abadi (Riau), budi daya sayuran di Tasikmalaya, hingga sistem hidroponik di Balai Teknik Irigasi, Bekasi. Di Sabah, Malaysia, teknologi ini dimanfaatkan untuk padi dan hortikultura.

“FONi sudah menjadi bagian dari gerakan pertanian modern yang efisien, berdaya, dan berkelanjutan. Kami berharap semakin banyak pihak yang menerapkannya di wilayah masing-masing,” tutur Prof Chusnul.

Salah satu penerapan di luar negeri dilakukan oleh Ts Dr Muhamad Askari, dosen Fakulti Pertanian Lestari, Universiti Malaysia Sabah, yang juga menjadi narasumber dalam Sarasehan FONi Nusantara 2025. Ia menuturkan bahwa lahan pertanian di wilayahnya memiliki tantangan unik: sering tergenang saat musim hujan dan pecah saat kemarau.

“Kami melihat masalah ini bisa diatasi oleh FONi, karena debit air yang selalu tersedia. Saat ini karena kita konsisten, sistem ini telah berjalan dengan baik,” ujarnya.

Salah satu bentuk adaptasi teknologi ini juga terlihat pada HidroFONi, sistem budi daya berbasis hidroponik tanpa listrik yang dikembangkan Balai Teknik Irigasi, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.

Menurut Andri, staf Balai Teknik Irigasi, teknologi ini mampu mengatur debit air dan nutrisi tanaman secara otomatis tanpa pengawasan intensif. “Sebelum pakai sistem ini, kalau listrik mati di akhir pekan, tanaman sering menguning. Sekarang, meski Sabtu–Minggu tidak ada pengawasan, tanaman tetap segar,” ujarnya.

Sebagai penutup, Prof Budi Indra Setiawan mengingatkan agar penerapan teknologi dilakukan dengan pendampingan hingga masyarakat benar-benar mandiri. “Jangan sampai kita memasang instalasi sebelum yakin bahwa masyarakat mampu menerapkannya dengan baik,” katanya.

Menurutnya, teknologi FONi dirancang agar siapa pun dapat merakit, memasang, dan mengoperasikan sistemnya secara mandiri. “Teknologi ini kita ciptakan untuk siapa saja, bahkan ibu-ibu di lapas pun bisa menggunakannya,” tuturnya. Prof Budi berharap penyebaran teknologi FONi akan semakin luas dan membawa manfaat bagi pertanian modern yang efisien dan berkelanjutan. 

Sarasehan FONi Nusantara digelar untuk memperluas jejaring dan berbagi pengalaman penerapan di lapangan. Kegiatan ini menjadi forum bagi pelaku dan pemerhati pertanian di Indonesia dan Malaysia untuk berdiskusi, bertukar pengalaman, serta memperkuat implementasi teknologi FONi di berbagai wilayah. (Fj)