Dosen IPB University Kembangkan Kayu Magnet sebagai Inovasi Ramah Lingkungan dari Limbah Industri

Dosen IPB University Kembangkan Kayu Magnet sebagai Inovasi Ramah Lingkungan dari Limbah Industri

dosen-ipb-university-kembangkan-kayu-magnet-sebagai-inovasi-ramah-lingkungan-dari-limbah-industri
Berita

Sebagai kampus yang dikenal unggul dalam riset berbasis biodiversitas, IPB University menunjukkan kiprahnya melalui inovasi material fungsional ramah lingkungan, salah satunya adalah kayu magnet. 

Dr Istie Sekartining Rahayu selaku inovator yang juga dosen Departemen Hasil Hutan IPB University, menjelaskan bahwa kayu magnet merupakan material hasil modifikasi dari kayu yang awalnya tidak memiliki sifat magnetik, namun setelah diberi perlakuan tertentu dapat ditarik oleh magnet.

“Kami memodifikasi kayu dengan bahan magnetik berupa serbuk maupun fluida. Prosesnya bisa dilakukan dengan coating, mencampur serbuk kayu dengan bubuk magnet atau mengimpregnasi kayu dengan larutan magnet,” ungkapnya.

Ia menambahkan, “Dalam penelitian ini, kami menggunakan metode coating dengan spraygun dan impregnasi dengan larutan yang mengandung nanomagnetit.”

Menurut Dr Istie, material ini dikategorikan inovatif karena menambahkan fungsi baru pada kayu, serta ramah lingkungan karena bahan bakunya berasal dari limbah industri kayu berukuran kecil. Selain itu, proses pembuatan nanomagnetit menggunakan metode kopresipitasi yang juga tergolong ramah lingkungan. 

Menariknya, kayu magnet memiliki kemampuan menyerap gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh televisi, ponsel, tablet, dan laptop—mengingat gelombang elektromagnetik dapat menimbulkan efek fisiologis dan psikologis pada manusia. Efek fisiologis yang ditimbulkan dapat berupa gangguan pada organ-organ tubuh manusia, sedangkan efek psikologis dapat ditimbulkan berupa stres.

Dalam pengembangannya, Dr Istie dan tim telah memanfaatkan kayu magnet untuk membuat magnetic stand holder untuk telepon genggam. Produk ini berfungsi untuk menyerap gelombang elektromagnetik terutama saat pengisian daya.

“Tantangan utama menuju produksi massal ada pada perizinan edar dan diversifikasi produk agar bisa digunakan untuk perangkat lain seperti laptop atau casing handphone,” tambahnya.

Riset ini juga mendapat dukungan dari Lembaga Kawasan Science Technopark (LKST) IPB University bersama Asian Development Bank (ADB) melalui program PRIMESTeP dengan Skema A-Kerja Sama Industri. Melalui program ini, inovasi kayu magnet difasilitasi menjadi produk siap guna bekerja sama dengan mitra industri, Hudricore.

Dengan potensi besar di industri kreatif, seperti mainan edukatif, hiasan kayu magnetik, stand holder, hingga elemen furnitur, inovasi kayu magnet ini menjadi salah satu bukti konkret komitmen IPB University dalam mengoptimalkan potensi sumber daya alam hayati Indonesia secara berkelanjutan.

Melalui penelitian berkelanjutan, IPB University terus menegaskan perannya sebagai Kampus Biodiversitas yang mampu melahirkan solusi ramah lingkungan dari sumber daya alam tropika. (Ez)