Leuweung Mukti: Inisiatif Mahasiswa IPB Tumbuhkan Ekonomi dan Kelestarian Desa Karacak Lewat Hutan Pangan

Leuweung Mukti: Inisiatif Mahasiswa IPB Tumbuhkan Ekonomi dan Kelestarian Desa Karacak Lewat Hutan Pangan

leuweung-mukti-inisiatif-mahasiswa-ipb-tumbuhkan-ekonomi-dan-kelestarian-desa-karacak-lewat-hutan-pangan
Pengabdian Masyarakat / Student Insight

Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) IPB University dari Forest Management Students’ Club (FMSC) melakukan program Leuweung Mukti di Desa Karacak, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. 

Mengusung konsep food forest atau hutan pangan, program ini mengintegrasikan ketahanan pangan, peningkatan ekonomi keluarga petani, serta kelestarian lingkungan melalui praktik agroforestri.

Program ini hadir sebagai upaya menjawab permasalahan yang dihadapi masyarakat desa. Mulai dari pengelolaan hutan rakyat yang belum intensif, pemanfaatan kawasan yang belum optimal, hingga keterbatasan teknologi budi daya dan pascapanen. 

Ghina Khansa, salah seorang perwakilan mahasiswa, menjabarkan bahwa Leuweung Mukti dilaksanakan melalui tiga skema utama, yaitu lestari usaha, lestari produksi, dan lestari sosial. Capaian awal dari ketiga skema telah terlihat jelas.

“Pada lestari produksi, masyarakat berhasil menyiapkan rumah lebah, menanam bunga sebagai pakan lebah, menanam kapulaga, talas, serta ubi ganyong, hingga melakukan revitalisasi kumbung jamur tiram,” ungkapnya.

Pada lestari usaha, tim mahasiswa mengembangkan nilai tambah hasil panen melalui dapur produksi ‘Karacak Innovation Kitchen’. Hasilnya, empat produk olahan pangan ibu-ibu desa telah memperoleh sertifikat halal dan nomor induk berusaha (NIB), siap dipasarkan lebih luas.

“Sementara pada lestari sosial, kelembagaan kelompok tani semakin kokoh dengan terbentuknya KTH (Kelompok Tani Hutan) Jaya Makmur dan penguatan KTH Wana Raya,” tambah Ghina.

Selain pemerintah desa dan kelompok tani, program ini juga didukung oleh aktivis lingkungan setempat. Agus, yang selama ini aktif menggerakkan masyarakat dalam isu-isu lingkungan, turut memperkuat pendekatan sosial program ini agar sejalan dengan upaya konservasi hutan rakyat.

“Kolaborasi ini mencerminkan bahwa keberhasilan program bukan hanya bertumpu pada mahasiswa, melainkan hasil kerja bersama berbagai elemen masyarakat,” ucap Ghina.

Keterlibatan pemuda juga menjadi bagian penting. Perwakilan kelompok wanita tani (KWT) turut mendorong pemuda untuk ikut serta dalam pengelolaan hutan pangan, sehingga tercipta regenerasi dalam kegiatan pertanian dan kehutanan desa.

Dengan dukungan multipihak yang melibatkan pemerintah desa, kelompok tani, pemuda, aktivis lingkungan, hingga masyarakat umum, Ghina dan tim PPK Ormawa FMSC optimis bahwa Desa Karacak dapat tumbuh sebagai model percontohan hutan pangan di Indonesia. 

“Program Leuweung Mukti bukan hanya sekadar inisiatif pemberdayaan, melainkan representasi nyata kolaborasi yang menghubungkan ilmu, inovasi, dan kearifan lokal demi tercapainya ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat desa,” tutupnya. (*/Rz)