Tingkatkan Literasi Sains Cuaca dan Iklim Siswa, Inovasi Departemen Geofisika dan Meteorologi Hadir di SMP IT Insantama Bogor
IPB University mendukung penuh inisiatif SMP IT Insantama Kota Bogor dalam meningkatkan literasi cuaca dan kesadaran lingkungan di kalangan pelajar. Dukungan ini diwujudkan melalui pemasangan Stasiun Cuaca Otomatis berbasis Komunitas atau Automatic Weather Station (AWS) Komunitas.
AWS Komunitas ini merupakan alat pemantau cuaca digital yang merekam data atmosfer secara real-time dan dapat diakses publik secara daring. Pemasangan dilakukan langsung oleh inovator AWS Komunitas, Dr Idung Risdiyanto, sebagai bagian dari program edukasi “MACA EXPO: Literasi Cuaca dan Iklim untuk Bumi Lestari”.
Dr Idung, dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) mengatakan, kehadiran AWS di lingkungan sekolah diharapkan memperkuat pembelajaran berbasis data serta menjadi sumber belajar nyata bagi siswa dalam memahami dinamika iklim di sekitar mereka.
“Alat ini berfungsi untuk mengukur cuaca secara otomatis mulai dari curah hujan, suhu, tekanan, arah dan kecepatan angin, hingga kelembapan udara. Semua datanya real-time per 10 menit,” jelas Dr Idung yang memimpin proses pemasangan alat tersebut.
Ia menjelaskan, pemasangan AWS di SMP IT Insantama merupakan bagian dari upaya IPB University dalam memperluas literasi sains iklim di tingkat sekolah.
“Alat ini kami pasang agar anak-anak bisa belajar langsung tentang iklim dan cuaca. Orang tua pun dapat memantau kondisi cuaca di sekolah, misalnya saat menjemput anak,” ujarnya.
Ia menambahkan, akurasi AWS akan meningkat seiring banyaknya data yang terkumpul. “Semakin lama alat ini digunakan, semakin tinggi tingkat akurasinya. Prediksi hujan yang awalnya 50 persen bisa meningkat seiring waktu dan data yang terkumpul,” jelas dia.
Sementara itu, Muhammad Iqbal Maulidi, Wakil Kepala SMP IT Insantama Bidang Kurikulum, menyampaikan apresiasi terhadap dukungan IPB University. Ia menilai keberadaan AWS dapat mendorong pembelajaran literasi berbasis data di sekolah.
“Sangat bermanfaat karena sekolah kami memang sekolah literasi. Dengan data cuaca ini, siswa dapat menganalisis dan memahami fenomena alam, lalu mengambil tindakan berdasarkan data itu,” ujarnya.
Iqbal mencontohkan, data AWS dapat digunakan siswa untuk mempelajari hubungan antara vegetasi dan suhu lingkungan. “Ketika vegetasi berkurang, suhu jadi lebih ekstrem, dan hal itu bisa dilihat langsung dari data AWS,” katanya.
Ia menegaskan, inisiatif ini sejalan dengan program literasi perubahan iklim yang dicanangkan oleh Kemendikdasmen. “AWS ini membantu kami menanamkan pada siswa bahwa setiap tindakan harus berbasis data,” tambahnya.
Menurut Iqbal, alat tersebut akan digunakan jangka panjang untuk kegiatan edukasi. “Kalau nanti ada renovasi, posisi alat bisa berubah, tetapi fungsinya tetap sama untuk edukasi siswa dan orang tua agar semakin sadar pentingnya data dalam menjaga lingkungan,” pungkasnya. (*/dr)

