Hadirkan Fasilitas dan Kurikulum Inklusif, IPB University Teguhkan Komitmen sebagai Kampus Ramah Disabilitas

Hadirkan Fasilitas dan Kurikulum Inklusif, IPB University Teguhkan Komitmen sebagai Kampus Ramah Disabilitas

hadirkan-fasilitas-dan-kurikulum-inklusif-ipb-university-teguhkan-komitmen-sebagai-kampus-ramah-disabilitas
Pendidikan

Wakil Rektor IPB University bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan, Prof Deni Noviana menegaskan bahwa IPB berkomitmen penuh dalam memberikan pendidikan yang aksesibel dan inklusif bagi seluruh mahasiswa, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus. 

Menurutnya, inklusivitas di IPB University bukan hanya wacana, tetapi sudah diwujudkan dalam berbagai kebijakan dan praktik nyata.

“Sejak proses penerimaan mahasiswa baru, IPB University tidak pernah membedakan calon mahasiswa berdasarkan kondisi fisik atau latar belakang lainnya. Penilaian sepenuhnya murni kemampuan akademik,” jelas Prof Deni. 

Ia menambahkan bahwa jalur masuk program sarjana dan sarjana terapan melalui seleksi rapor (SNBP), tes tulis (SNBT), maupun mandiri menekankan aspek akademik tanpa diskriminasi.

Lebih jauh, Prof Deni mengungkapkan bahwa aspek inklusivitas juga terlihat dalam proses registrasi mahasiswa. Melalui biodata yang dikumpulkan, pihak kampus dapat mengidentifikasi mahasiswa berkebutuhan khusus. 

“Informasi ini menjadi dasar bagi kami untuk memberikan dukungan dalam proses pembelajaran, mulai dari awal kuliah hingga kelulusan,” katanya.

Tidak berhenti pada strategi, IPB University langsung melakukan aksi nyata. Contohnya, mahasiswa dengan keterbatasan mobilitas, mendapatkan akses yang mudah untuk berkuliah karena ditempatkan di lantai yang mudah dijangkau.  

“Langkah ini bukan lagi strategi, tetapi implementasi nyata. Kami juga telah menambah fasilitas lift di beberapa gedung fakultas/sekolah dalam tiga tahun terakhir,” ujar Prof Deni.

Selain infrastruktur, inklusivitas juga diwujudkan dalam kurikulum dan sistem pembelajaran. Melalui Kurikulum 2025 (K2025), IPB University menyediakan akses materi secara digital melalui Learning Management System (LMS). Hal ini memudahkan mahasiswa dengan low vision atau kebutuhan khusus lainnya untuk tetap mengikuti perkuliahan. 

“Transformasi pendidikan diantaranya diimplementasikan melalui kurikulum yang adaptif dan kontekstual. Personalized learning dikembangkan untuk mengakomodir keragaman mahasiswa (sosial, budaya, kemampuan, dan gaya belajar yang berbeda), serta meningkatkan akses dan partisipasi.  Dosen berperan sebagai fasilitator bagi mahasiswa selama menjalani  pendidikan di IPB University.

Transformasi dalam bentuk penilaian juga dilakukan, di mana porsi UTS-UAS tidak lebih dari 50 persen. Ada evaluasi sejawat, kuis, tugas, hingga problem-based learning, sehingga mahasiswa dapat dinilai lebih komprehensif, ketercapaian pembelajaran diukur sebagai indikator kompetensi yang dimiliki mahasiswa,” tambahnya. Lebih lanjut, Prof Deni mengungkapkan bahwa inklusivitas di IPB University berlaku bagi semua warga IPB University, termasuk dosen dan tenaga kependidikan. Fasilitas toilet disabilitas, jalur kursi roda, serta teknologi pendukung pembelajaran terus dikembangkan. 

“Intinya, inklusivitas bukan sekadar kebijakan, melainkan budaya akademik yang sudah kami jalankan. Kami ingin semua mahasiswa merasa diterima, didukung, dan memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi,” tuturnya. (dr)