Faperta IPB University dan Gukje Cyber University Korea Jalin Kolaborasi Global Hadapi Perubahan Iklim
Fakultas Pertanian (Faperta) IPB University menjalin kolaborasi strategis dengan Gukje Cyber University Korea Selatan untuk memperkuat kerja sama di bidang pendidikan, riset, dan pengembangan teknologi pertanian berkelanjutan.
Kesepakatan ini ditegaskan melalui penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) dalam “2025 Seminar on Climate Change Responses and Eco-Friendly Agriculture” yang digelar di IPB International Convention Center (IICC), Bogor, Rabu (1/10).
Kerja sama IPB University dan Korea Selatan sejatinya telah terjalin sejak beberapa waktu lalu melalui uji coba pestisida dan fungisida ramah lingkungan bersama perusahaan Share Green Co Ltd. Hasil positif dari riset itu mendorong perluasan kolaborasi ke bidang pendidikan dan penelitian bersama Gukje Cyber University.
CEO Share Green Co Ltd, Seo Yoon-kyung, menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan pertanian berkelanjutan. “Petani Indonesia menunjukkan minat besar pada pertanian ramah lingkungan, terutama tanaman obat. Kami ingin membangun hubungan jangka panjang, tidak hanya memperkenalkan produk, tetapi juga berkolaborasi dalam penelitian dan pengembangan teknologi,” katanya.
Penandatanganan MoA antara Faperta IPB University dan Gukje Cyber University ini menjadi fondasi kerja sama jangka panjang yang mencakup pertukaran dosen dan mahasiswa, riset bersama, serta transfer teknologi.
Kolaborasi ini juga sejalan dengan program Sister Province antara Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Chungnam, Korea Selatan. Selain memperkuat sektor akademik, kerja sama ini diharapkan membuka peluang ekonomi, khususnya perdagangan produk pertanian antar kedua negara.
“Kolaborasi internasional adalah kunci menghadapi krisis iklim. Lewat kerja sama lintas batas ini, diharapkan lahir inovasi pertanian yang ramah lingkungan sekaligus berkelanjutan untuk menjaga ketahanan pangan,” tegas Dr Ali Nurmansyah.
Seminar internasional tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, dan pelaku industri dari kedua negara. Topik utama adalah tantangan perubahan iklim yang semakin nyata terhadap sektor pertanian, mulai dari kenaikan suhu, perubahan pola cuaca, hingga ancaman hama dan penyakit baru.
“Perubahan iklim tidak bisa dihindari dan dampaknya sudah kita rasakan baik di Indonesia maupun Korea Selatan. Forum ini penting untuk merumuskan strategi adaptasi dan solusi bersama,” ujar Dr Ali Nurmansyah, Ketua Departemen Proteksi Tanaman Faperta IPB University.
Seminar menghadirkan enam sesi utama dengan pakar dari kedua negara. Dr Yongseok Choi dari Chungcheongnam-do Agricultural Research and Extension Services memaparkan strategi pengendalian hama ramah lingkungan berbasis biopestisida. Sementara, dari IPB University antara lain Dekan Faperta IPB University, Prof Suryo Wiyono yang menjelaskan strategi adaptasi pertanian Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim.
Prof Sahara dari Fakultas Ekonomi dan Manajemen membahas prospek pasar pertanian Indonesia, sedangkan Prof Dadang dari Faperta IPB University mengulas peluang transisi dari pestisida kimia menuju biopestisida sebagai solusi ramah lingkungan. (*/Rz)

