Pakar IPB University Ingatkan Pencegahan Rabies di Tengah Merebaknya Kasus di Bangkok

Pakar IPB University Ingatkan Pencegahan Rabies di Tengah Merebaknya Kasus di Bangkok

pakar-ipb-university-ingatkan-pencegahan-rabies-di-tengah-merebaknya-kasus-di-bangkok
Ilustrasi hewan pembawa rabies (freepik)
Riset dan Kepakaran

Kasus rabies yang kembali merebak di Bangkok, Thailand, menjadi perhatian serius tak terkecuali bagi Indonesia. Menanggapi kondisi tersebut, pakar virologi dan mikrobiologi veteriner dari IPB University, Dr drh Sri Murtini, mengingatkan pentingnya kewaspadaan, khususnya terhadap potensi penyebaran penyakit ini melalui pergerakan hewan.

“Pergerakan manusia memang tidak menyebarkan rabies secara langsung, tetapi pergerakan hewan pembawa rabies secara ilegal berpotensi membawa virus melalui gigitan ke orang maupun hewan lain,” jelasnya.

Indonesia masih termasuk negara endemis rabies, meskipun tidak semua daerah. Saat ini, baru delapan provinsi yang berstatus bebas rabies, yaitu Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Papua, Papua Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Dr Sri Murtini menegaskan bahwa pencegahan merupakan kunci utama agar kasus rabies tidak semakin meluas. Upaya yang dapat dilakukan antara lain vaksinasi rutin terhadap hewan pembawa rabies (HPR) seperti anjing, kucing, dan monyet, baik yang berpemilik maupun hewan jalanan.

“Selain vaksinasi, pengendalian populasi hewan jalanan yang tidak berpemilik melalui sterilisasi juga penting untuk menekan potensi penyebaran virus,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan wisatawan asal Indonesia yang hendak berkunjung ke Thailand agar meningkatkan kewaspadaan. Menurutnya, kontak langsung dengan hewan jalanan, terutama anjing dan kucing liar, sebaiknya dihindari untuk mencegah risiko penularan.

“Menghindari risiko tertular rabies bisa dilakukan dengan tidak berkontak dengan hewan, khususnya anjing atau kucing jalanan selama berwisata,” bebernya.

Dari sisi kesehatan hewan, strategi jangka panjang dinilai perlu dilakukan secara terpadu. Dr Sri Murtini menekankan bahwa pengendalian populasi hewan melalui sterilisasi, disertai adopsi hewan jalanan, menjadi langkah yang efektif. Edukasi masyarakat juga memegang peranan penting agar setiap pemilik hewan dapat bertanggung jawab terhadap kesehatan dan vaksinasi peliharaannya.

“Rabies adalah penyakit zoonosa yang sangat berbahaya karena hampir selalu berakibat fatal ketika gejalanya muncul. Karena itu, upaya pencegahan, pengendalian populasi hewan, serta kepedulian masyarakat menjadi sangat penting,” tegas Dr Sri Murtini.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa lebih dari 95 persen kasus rabies pada manusia ditularkan melalui gigitan anjing. Setiap tahunnya, puluhan ribu orang di seluruh dunia meninggal akibat rabies, terutama di negara-negara Asia dan Afrika. Kondisi ini menunjukkan bahwa ancaman rabies masih nyata, sehingga kewaspadaan tidak boleh dikendurkan.

Dr Sri Murtini menambahkan, pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan organisasi pencinta hewan dapat menurunkan angka rabies secara signifikan. 

“Dengan vaksinasi massal, pengawasan lalu lintas hewan, serta kesadaran publik, Indonesia bisa menekan kasus rabies lebih jauh dan melindungi kesehatan manusia maupun hewan,” tandasnya. (Fj)