Kampanye Makan Udang di Tengah Isu Paparan Radioaktif Cesium-137 Digelar di Sela Talkshow dan Temu Bisnis FPIK IPB University
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University bekerja sama dengan Masyarakat Krustasea Indonesia (MKI) menggelar Kampanye Makan Udang di sela kegiatan Talkshow dan Temu Bisnis Perikanan dan Kelautan. Kampanye ini merupakan upaya untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat bahwa mengonsumsi udang tetap aman dan sehat di tengah isu paparan radioaktif Cesium-137.
Dalam Talkshow dan Temu Bisnis ini dibahas fenomena Indonesia sebagai negara maritim dengan kekayaan sumber daya laut melimpah namun masih menghadapi sejumlah persoalan. Salah satu tantangan besar adalah bagaimana mengubah potensi perikanan menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional.
Acara ini mengundang pembicara dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yakni Dr Tb Haeru Rahayu (Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya) dan Machmud, SP, MSc (Sekretaris Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan). Turut hadir Ir Hardi Pitoyo (Petambak Udang Banyuwangi) dan Mr Pham The Cuong (Commercial Consellor Kedutaan Besar Republik Sosialis Vietnam di Indonesia).
Para narasumber menyampaikan pentingnya peran teknologi, inovasi, dan hilirisasi hasil perikanan. Teknologi pascapanen, sistem rantai dingin, serta metode pengolahan modern dapat menjadi pembeda signifikan dalam meningkatkan kualitas dan daya saing ekspor.
Hilirisasi berarti menggeser orientasi dari sekadar mengekspor ikan mentah menuju produk olahan bernilai tambah tinggi, seperti filet, produk beku siap saji, makanan kaleng, hingga suplemen berbasis minyak ikan. Langkah ini tidak hanya memperbesar devisa, tetapi juga membuka lapangan kerja baru di sektor industri pengolahan.
Selain itu, teknologi dan inovasi juga harus diarahkan untuk menggerakkan ekonomi rakyat. Nelayan kecil dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat dilibatkan dalam ekosistem industri pengolahan ikan. Dukungan teknologi sederhana seperti mesin pendingin portable, akses pembiayaan, dan pelatihan pengolahan ikan dapat meningkatkan pendapatan.
Transformasi sektor perikanan melalui teknologi, inovasi, dan hilirisasi bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk memperkuat kedaulatan ekonomi. Dengan merumuskan strategi yang tidak hanya meningkatkan daya saing ekspor dan devisa, tetapi juga memastikan kesejahteraan rakyat melalui distribusi manfaat yang lebih merata.
Hanya dengan pendekatan yang menyatukan daya saing global dan pemberdayaan rakyat, perikanan Indonesia dapat menjadi lokomotif pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Acara di akhiri dengan temu bisnis dengan pelaku usaha, serta penandatangan kerja sama antara FPIK IPB University dengan sejumlah mitra. Yakni MKI, Agrinas Jaladri, Lembaga Wakaf Nurul Taqwa-PT Indosat, PT Geltech Prima Indonesia, Cleenshet, Bapelitbangda Kabupaten Lebak, Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu, dan Auto2000 (PT Astra). (*/Rz)
