IPB University Ajak Peserta Summer Course Amati Biodiversitas di Pulau-Pulau Kecil

IPB University Ajak Peserta Summer Course Amati Biodiversitas di Pulau-Pulau Kecil

IPB University Ajak Peserta Summer Course Amati Biodiversitas di Pulau-Pulau Kecil
Berita / Pendidikan

Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB University kembali menyelenggarakan summer course tentang keanekaragaman hayati, (19/8–2/9). 

Summer course 2025 merupakan gelaran ke-11 sejak pertama digelar tahun 2003/2004. Tahun ini diikuti 12 mahasiswa dari University of Vienna, Austria dan 8 mahasiswa dari IPB University, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Brawijaya, dan Universitas Padjadjaran, serta organisasi nirlaba Indonesian Dragonfly Society (IDS).

Wakil Rektor IPB University bidang Konektivitas Global, Kerjasama, dan Alumni Prof Iskandar Z Siregar, menyambut hangat para peserta dari Austria. Ia mendukung penuh kegiatan ini karena Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah.

Prof Damayanti Buchori selaku penanggung jawab kegiatan menjelaskan summer course ini bekerja sama dengan University of Vienna. Kegiatan ini difokuskan pada pengamatan keanekaragaman hayati di pulau-pulau kecil. 

“Kami bertolak ke Pulau Sebesi, Krakatau, dan Pulau Peucang. Sebagai pembanding dengan pulau besar, kami juga melakukan pengamatan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak,” kata Prof Damayanti Buchori, Guru Besar IPB University bidang Entomologi.

Prof Damayanti menjelaskan, terdapat empat taksa yang akan menjadi target pengamatan selama summer course, yaitu burung, reptil, kupu-kupu, dan capung. Keempat taksa tersebut dipilih karena memiliki peran penting sebagai bioindikator kesehatan ekosistem, sekaligus mudah diamati di lapangan. 

Selain itu, keragaman dan kelimpahan masing-masing taksa dapat memberikan gambaran mengenai kondisi lingkungan, khususnya terkait kualitas habitat, ketersediaan sumber daya, serta dampak aktivitas manusia terhadap keseimbangan ekosistem.

Prof Christian H Schulze, pendamping dari University of Vienna menjelaskan, Krakatau dan pulau di sekitarnya dipilih sebagai lokasi kegiatan karena pulau tersebut menunjukkan proses suksesi primer dari dampak erupsi gunung anak krakatau. 

“Kita akan melakukan pengamatan keanekaragaman hayati dengan metode rapid biodiversity assessment dan membandingkannya antarpulau,” kata Prof Christian.