Anak Muda, Saatnya Bawa Pertanian ke Next Level
IPB University bersama Garuda TV menyelenggarakan kegiatan Indonesia Punya Kamu: Farm the Future di Grha Widya Wisuda (GWW), Selasa (27/8). Mengusung tema “Anak Muda, Saatnya Bawa Pertanian ke Next Level”, acara ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk berperan aktif menghadirkan ide, inovasi, dan solusi kreatif demi mendorong kemajuan sektor pertanian Indonesia di masa depan.
Wakil Rektor IPB University bidang Konektivitas Global, Kerjasama, dan Alumni, Prof Iskandar Z Siregar, menegaskan bahwa tema ini sangat relevan dengan tantangan global terkait pangan, air, energi, dan kesehatan masyarakat.
“Pertanian saat ini di banyak negara menjadi primadona. Food security menghadapi tantangan besar, dan Presiden Prabowo juga sudah menegaskan pentingnya menjaga ketahanan pangan, air, serta energi, sekaligus memastikan kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Menurut, Prof Iskandar pertanian tidak hanya berperan dalam memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga memiliki kontribusi besar bagi kesehatan masyarakat. Karena itu, diperlukan kolaborasi pentahelix yang melibatkan akademisi, dunia usaha, komunitas, pemerintah, dan media.
“Media berperan penting dalam menyebarkan sari pati diskusi ini kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda, melalui berbagai platform di era digital dan kecerdasan buatan,” tambahnya.
Sejalan dengan isu pangan, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Dr Wihaji, menekankan pentingnya Program Makanan Bergizi (MBG) melalui Makanan Pendamping Gizi (MPG) yang ditujukan bagi kelompok B3: ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
“Alhamdulillah, sudah ada lebih dari 300 ribu penerima manfaat B3. Memang belum 100 persen karena masih tahap uji coba, tetapi ini progres nyata. Misalnya di Jawa Barat, satu SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) mampu menyalurkan lebih dari seribu paket untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita,” ungkapnya.
Dr Wihaji juga menekankan keterkaitan program ini dengan momentum bonus demografi Indonesia. “Kalau bonus demografi ini dikelola dengan baik, insyaallah bisa mendukung target pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen. Maka, pemberdayaan keluarga, peningkatan gizi ibu dan anak, serta penguatan SDM (sumber daya manusia) menjadi sangat strategis,” tegasnya.
Sementara itu, Menteri Transmigrasi, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara memaparkan paradigma baru program transmigrasi. Menurutnya, transmigrasi kini tidak lagi sekadar memindahkan penduduk, melainkan membangun kawasan ekonomi baru berbasis SDM unggul.
Lebih lanjut, ia menyoroti Program Ekspedisi Patriot yang melibatkan mahasiswa dari tujuh perguruan tinggi terbaik berkolaborasi dengan 17 perguruan tinggi daerah. Sebanyak 2.000 peneliti muda diterjunkan ke 154 kawasan transmigrasi di Maluku, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Kalimantan, hingga Sumatra.
“Mereka melakukan riset, penelitian, sekaligus pengabdian kepada masyarakat transmigran, sehingga masyarakat memiliki perspektif lebih baik dalam mengelola kekayaan sumber daya alam secara berkelanjutan,” terangnya.
Selain itu, Kementrans juga menyiapkan Program Beasiswa Patriot yang akan diluncurkan tahun depan. Program ini membuka kesempatan bagi masyarakat di kawasan transmigrasi untuk melanjutkan studi S2 dan S3 melalui sistem kuliah jarak jauh, sekaligus mendorong riset yang lebih aplikatif sesuai kebutuhan lapangan. Tersedia pula opsi S2 komparatif, yakni peluang bagi lulusan magister untuk kembali menempuh studi magister di universitas top dunia. (AS)

