ICTS 2025: IPB University Dorong Forensik Kehutanan untuk Hentikan Kejahatan Lingkungan

ICTS 2025: IPB University Dorong Forensik Kehutanan untuk Hentikan Kejahatan Lingkungan

ICTS 2025 IPB University Dorong Forensik Kehutanan untuk Hentikan Kejahatan Lingkungan
Riset dan Kepakaran

IPB University bekerja sama dengan konsorsium internasional World Resources Institute (WRI) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali menunjukkan kiprahnya sebagai pelopor inovasi di bidang kehutanan dan lingkungan. 

Pada International Conference on Tropical Silviculture (ICTS) 2025 yang digelar di IPB International Convention Center (IICC), Bogor, Rabu (21/8), IPB University mengusung tema forensic science sebagai strategi baru dalam menghadapi berbagai tantangan kejahatan lingkungan.

Wakil Rektor IPB University bidang Konektivitas Global, Kerjasama, dan Alumni, Prof Iskandar Z Siregar, menjelaskan bahwa konferensi ini menghadirkan pakar terkemuka dari dalam dan luar negeri. “Mereka memaparkan beragam pendekatan teknologi untuk identifikasi kayu dan penanganan kasus lingkungan,” ujarnya.

Prof Iskandar menyatakan komitmen IPB University untuk menjadi pionir pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) forensik di bidang kehutanan dan lingkungan. 

“Ke depan, IPB University juga menargetkan terbentuknya laboratorium forensik yang bisa menganalisis sampel tumbuhan maupun satwa liar, demi memperkuat scientific backup dalam penegakan hukum,” ucapnya.

Ketua Panitia ICTS 2025, Dr Fifi Gus Dwiyanti, menambahkan bahwa konferensi tahun ini mengupas delapan subtopik penting, mulai dari timber tracking, pelacakan satwa liar, pencemaran, identifikasi benih, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam forensik kehutanan dan lingkungan.

“Banyak orang belum menyadari bahwa teknologi forensik bisa menjawab kasus-kasus kejahatan lingkungan, mulai dari illegal logging hingga perdagangan satwa. Dengan dukungan iptek, proses penegakan hukum bisa jauh lebih kuat,” tegasnya.

Sementara itu, Prof Bambang Hero Saharjo, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, menekankan bahwa isu forensik juga relevan dengan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di Indonesia. 

Prof Bambang yang kini menjabat sebagai Kepala Pusat Studi Bencana (PSB) IPB University juga mengingatkan bahwa karhutla tidak hanya terjadi di area korporasi, tetapi juga semakin meluas di lahan masyarakat.

“Banyak kejadian karhutla di masyarakat yang bahkan lebih luas dibandingkan korporasi. Misalnya di Pulau Meranti, saya menemukan kebakaran sekitar 652 hektare. Ada juga yang mencapai 300 hektare bahkan 100 hektare,” ungkap Prof Bambang.

Ia menegaskan bahwa pengendalian karhutla harus dilakukan secara komprehensif. Tidak hanya pencegahan dan pemadaman, tetapi juga penanganan pascakebakaran. 

“Kita harus mengejar siapa pelakunya dan meminta pertanggungjawaban mereka untuk melakukan proses perbaikan. Untuk itu, keterlibatan para pakar sangat penting agar kita tahu seberapa besar kerusakan dan bagaimana merancang pemulihannya,” jelasnya.

Prof Bambang menegaskan bahwa upaya identifikasi pelaku pembakaran sangat mungkin dilakukan dengan pendekatan ilmiah. “Selama ini kita sudah berusaha menelusuri, dan bukan tidak mungkin kebakaran bisa dikejar siapa di belakangnya,” pungkasnya.

Melalui ICTS 2025, IPB University menegaskan perannya sebagai pusat pengembangan forestry and environmental forensics di Indonesia. Dengan kombinasi teknologi mutakhir, riset multidisiplin, serta peran akademisi, IPB University bertekad mendukung upaya menekan angka kejahatan lingkungan, mulai dari illegal logging, perdagangan satwa, hingga karhutla. (AS)