IPB University Luncurkan Kurikulum Baru K2025
IPB University meluncurkan kurikulum baru berbasis Outcome Based Education (OBE). Langkah ini bertujuan mencetak lulusan yang lincah, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan, sekaligus memastikan capaian pembelajaran lulusan (CPL) selaras dengan kebutuhan pekerjaan masa depan.
Wakil Rektor IPB University bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan, Prof Deni Noviana, mengatakan bahwa penyusunan kurikulum harus berlandaskan kebijakan nasional sekaligus responsif terhadap perkembangan zaman.
“Kurikulum harus bisa merespons realitas bahwa 50 tahun ke depan lulusan kita akan menghadapi tantangan baru,” ujar Prof Deni dalam sambutan Kick-off Penerapan dan Simulasi Sistem OBE di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Kampus IPB Dramaga (28/7).
Karena itu, ia melanjutkan, rancangan kurikulum tidak boleh lepas dari perkembangan teknologi, tuntutan industri, dan kebutuhan masyarakat.
Ia menambahkan, terdapat tiga komponen utama dalam kurikulum berbasis OBE: Outcome-based Curriculum (kurikulum berbasis capaian), Outcome-based Learning and Teaching (pembelajaran berbasis capaian), dan Outcome-based Assessment and Evaluation (asesmen dan evaluasi berbasis capaian).
“Ketiga aspek inilah yang harus berjalan selaras agar OBE tidak berhenti pada konsep, tetapi benar-benar terasa dampaknya bagi mahasiswa,” papar Prof Deni.
Rektor IPB University, Prof Arif Satria, mengatakan bahwa terobosan ini menjadi langkah penting dalam penyempurnaan Kurikulum 2020 menjadi Kurikulum 2025.
“Alhamdulillah pada kesempatan ini kita bisa berkumpul dalam rangka soft launching kurikulum baru kita berbasis OBE. Ini merupakan ikhtiar kita untuk penyempurnaan K2020 menjadi K2025, sebagai bagian dari komitmen IPB University untuk selalu merespons terhadap dinamika perubahan,” ungkapnya melalui video tapping.
Lebih jauh, Direktur Transformasi Pendidikan dan Teknologi Pembelajaran (DTPTP) IPB University, Prof Yulin Lestari memaparkan, pengembangan kurikulum berbasis OBE melibatkan integrasi berbagai komponen penting, termasuk panduan penerapan, dokumen panduan, hingga pemetaan CPL.
Ia menjelaskan bahwa keberhasilan OBE tidak bisa dicapai secara instan, melainkan melalui proses bertahap dengan dukungan berbagai pihak. “Ada dua hal utama dalam implementasi OBE, yakni panduan penetapan dan panduan pelaksanaan. Semua itu harus terintegrasi agar hasilnya maksimal,” katanya.
Program OBE di IPB University telah dilengkapi dokumen pendukung yang siap ditunjukkan saat proses akreditasi nasional maupun internasional. Dengan demikian, ke depan diharapkan tidak ada lagi kesulitan dalam proses reakreditasi karena sistem sudah dibangun secara komprehensif.
“Sistem ini akan dikembangkan secara bertahap sehingga lebih mudah dipahami dan diimplementasikan,” ungkapnya. (dr)
