Pakar Ekologi Satwa Liar IPB University Jelaskan Perbedaan Morfologis antara Kijang dan Rusa

Pakar Ekologi Satwa Liar IPB University Jelaskan Perbedaan Morfologis antara Kijang dan Rusa

Pakar Ekologi Satwa Liar IPB University Jelaskan Perbedaan Morfologis antara Kijang dan Rusa
Foto: Blaise Droz www.viensdanslajungle.ch & arundoc/freepik
Riset dan Kepakaran

Meski kerap disamakan, kijang dan rusa ternyata memiliki perbedaan morfologis yang cukup mencolok. Hal ini dijelaskan oleh Pakar Ekologi Satwa Liar IPB University, Dr Dede Aulia Rahman.

“Kalau kita bicara kijang dan rusa, itu sebenarnya spesies yang masuk famili yang sama, yaitu Cervidae,” kata Dr Dede di salah satu tayangan di YouTube IPB TV. 

Akan tetapi, ia melanjutkan, secara morfologi, keduanya berbeda. Ia menyebutkan dua ciri utama yang paling mudah dikenali oleh masyarakat awam. 

“Yang pertama, ukuran tubuh. Ukuran rusa dewasa jauh lebih besar dibandingkan dengan kijang,” jelas dosen IPB University dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) ini.

Ciri kedua terdapat pada struktur di kepala hewan tersebut. “Kita menyebutnya ranggah, bukan tanduk. Kalau kijang atau menjangan, ranggahnya hanya dua cabang. Sementara rusa memiliki percabangan lebih banyak, bisa tiga hingga empat anak cabang,” paparnya.

Dr Dede juga menambahkan adanya perbedaan lain yang dapat dilihat secara kasat mata. “Untuk menjangan atau kijang, dia memiliki semacam ‘halis’ atau garis hitam memanjang di wajah. Sementara rusa tidak memiliki ciri tersebut,” tambahnya. 

Ia menegaskan bahwa ranggah berbeda dari tanduk, karena struktur penyusunnya berbeda. Ranggah akan luruh/tanggal secara alami setiap tahunnya.

Indonesia sebagai negara megabiodiversitas memiliki enam jenis satwa dari famili Cervidae. “Ada rusa Jawa atau rusa timor, rusa sambar, rusa bawean, kijang kuning Kalimantan (kijang merah), dan kijang gunung Sumatra,” sebutnya.

Dr Dede menegaskan pentingnya menjaga kekayaan keanekaragaman hayati tersebut. “Potensi keanekaragaman hayati yang sangat tinggi itu tentunya harus kita jaga bersama. Supaya terus ada, terus bertahan, memberikan kemanfaatan untuk masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Ia pun mendorong para peneliti dan generasi muda untuk terus menggali potensi tersebut dengan bijak. “Kita perlu memikirkan pemanfaatan biodiversitas secara arif dan bijaksana demi masa depan bangsa,” pungkasnya. (Fj)