Dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University Kupas Tuntas Risiko Zoonosis Penyakit Hantavirus
Merebaknya pemberitaan tentang hantavirus di Indonesia kembali menarik perhatian publik. Menanggapi hal ini, dosen sekaligus peneliti mikrobiologi di Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Dr drh Ni Luh Putu Ika Mayasari, memberikan penjelasan mengenai risiko penularan dan pentingnya peran kebersihan lingkungan dalam mencegah penyebaran penyakit infeksi hantavirus yang merupakan zoonosis tersebut.
Ia mengatakan penyakit ini tergolong baru dilaporkan di Indonesia. “Laporan kasus hantavirus di Indonesia baru muncul sekitar tahun 2020. Namun, virus ini sudah lama ditemukan di negara lain, salah satunya Korea Selatan, tempat pertama kali virus ini diidentifikasi dan diberi nama Hantaan,” jelasnya.
Berdasarkan data yang diperoleh, tercatat ada delapan kasus hantavirus di Indonesia selama periode 15–21 Juni 2025, yang tersebar di Jawa Barat, Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara. “Meskipun masih sedikit, ini harus menjadi perhatian bersama, terutama dalam memahami jalur penularannya,” kata Dr Ika.
Mengenai mekanisme penularan, Dr Ika menjelaskan bahwa transmisi hantavirus dari tikus ke manusia umumnya terjadi secara tidak langsung. “Penularan bisa melalui kontak dengan urine atau feses tikus yang terinfeksi yang mencemari permukaan area tempat tinggal atau makanan di rumah. Kontak langsung seperti gigitan sangat jarang,” jelasnya.
Ia menambahkan, manusia bisa tanpa sadar menyentuh area yang terkontaminasi lalu menyentuh wajah, sehingga virus bisa masuk melalui saluran pernapasan. Virus juga dapat terhirup ketika kita berada dilingkungan yang terkontaminasi.
Karena itu, ia mengatakan bahwa masyarakat untuk lebih waspada terhadap keberadaan tikus di sekitar rumah. Langkah pencegahan yang paling penting adalah mengidentifikasi dan menutup jalur masuk tikus ke rumah, misalnya melalui lubang saluran air atau atap bocor.
“Tikus bisa urinasi atau buang kotoran di mana saja, dan itu bisa membahayakan bila mengkontaminasi area rumah, peralatan makan atau makanan,” katanya.
Ia juga menyarankan agar menjaga kebersihan rumah dan menutup rapat makanan serta peralatan makan agar tidak terpapar. “Jika mengetahui rumah memiliki banyak tikus, masyarakat harus melakukan kontrol aktif. Bersihkan area yang diduga menjadi tempat tikus buang kotoran dengan menggunakan alat pelindung seperti sarung tangan dan masker,” jelasnya.
Dr Ika kembali mengingatkan untuk memulai perilaku hidup bersih dan sehat. “Menjaga kebersihan pribadi dan lingkungan adalah kunci pencegahan berbagai penyakit, termasuk yang ditularkan dari hewan. Jadi, jangan abai dengan kebersihan rumah, terutama jika sudah melihat tanda-tanda kehadiran tikus,” tutupnya. (dr)

