Gunakan AI, Tim Peneliti IPB University Berhasil Nilai Keindahan dan Kesehatan Terumbu Karang
Para pakar kelautan IPB University sukses memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menguantifikasi keindahan terumbu karang dengan tingkat akurasi mendekati maksimal. Keberhasilan tim peneliti IPB University ini boleh jadi akan menjadi standar bagi peneliti dunia.
Sebelumnya, pihak Mars Coral Reef Restoration Project adalah tim yang melakukan upaya restorasi terumbu karang di Sulawesi Selatan. Kemudian, upaya tersebut dipantau oleh tim gabungan, termasuk para peneliti dari IPB University.
Penelitian ini merupakan kolaborasi antara tim peneliti IPB University dan para peneliti internasional dari Lancaster University, University of Montpellier, serta University of Texas.
Terdapat 18 lokasi pengambilan sampel terumbu karang, yang terletak di sekitar Pulau Bontosua, Sulawesi Selatan. Para peneliti memilih lokasi terumbu karang dari area seluas 0,79 km2.
Program riset ini dikepalai oleh Cut Aja Gita Alisa, mahasiswa Program Studi Pascasarjana Ilmu Kelautan IPB University. Melibatkan Dr Beginer Subhan, Dr Tries B Razak, dan Prof Neviaty P Zamani, serta mahasiswa pascasarjana lainnya, yaitu Rindah Talitha Vida.
Hasil penelitian telah dipublikasikan di jurnal bereputasi, yaitu Scientific Reports dan ditayangkan di Nature.com dengan judul “Benthic communities on restored coral reefs confer equivalent aesthetic value to healthy reefs”.
“Kami menggunakan AI dalam penelitian ini. AI bertugas membantu kami membuat keputusan untuk menguantifikasi keindahan terumbu karang hasil restorasi,” ungkap pakar restorasi terumbu karang Indonesia, Dr Beginer Subhan, belum lama ini.
“Harapannya, hasil penelitian ini bisa menjadi standar untuk menilai keberhasilan kegiatan restorasi terumbu karang di Indonesia, bahkan di dunia,” lanjutnya.
Sementara peneliti asing yang terlibat terdiri atas Tim Lamont, Nicolas Mouquet, Nicholas Graham, Christopher Hemingson, dan David Mouillot. Seluruh tim monitoring Mars Coral Restoration Project, kelompok peneliti kelautan anak bangsa yang berbasis di Makassar juga ikut andil.
Lebih jauh mengenai keterlibatan AI, Gita Alisa mengatakan bahwa mereka juga melakukan teknik fotografi dengan jenis kamera bawah air Olympus TG-5 yang kemudian dinilai oleh AI. “Hasilnya adalah R kuadrat sama dengan 0,95. Dalam banyak penelitian di seluruh dunia, nilai kuadrat R hingga mendekati angka 1 masuk dalam kategori high prediction accuracy atau akurasi sangat tinggi,” jelas Gita Alisa.
Dengan demikian, AI berhasil menguantifikasi bahwa hasil restorasi yang dilakukan sangat mirip dengan terumbu karang alami. Temuan ini mengonfirmasi bahwa restorasi yang tepat dapat mengembalikan keindahan ekosistem karang seperti kondisi alaminya.
Metode pemantauan
Indonesia merupakan negara dengan program restorasi terumbu karang terbanyak, di antara negara lain di dunia. Metode restorasi yang diteliti dalam riset ini adalah metode “Reef Star” yang diprakarsai oleh Mars Coral Restoration Project. Metode ini dilakukan dengan memulihkan potongan dan pecahan tubuh terumbu karang, sehingga tutupan karang di laut yang tadinya hanya 10 persen dapat meningkat menjadi 60 persen.

Sebelum masuk ke penilaian oleh AI, para peneliti membagikan 883 foto terumbu karang dengan berbagai kondisi (sehat, restorasi, rusak) secara acak kepada 3.348 responden seluruh dunia, melalui koneksi dunia maya (online).
Ribuan koresponden tersebut berasal dari Perancis, Indonesia, Inggris, Amerika Serikat, dan Australia. Mereka datang dari berbagai latar belakang: akademisi, pemerhati lingkungan, organisasi nirlaba (LSM), dan komunitas ilmiah.
Hasil dari survei online ini pun konsisten, memilih foto terumbu yang paling indah dengan warna-warni cerah dan struktur karang kompleks. Hal ini menegaskan pentingnya keragaman visual dalam menarik minat masyarakat pada terumbu karang.
Pemanfaatan AI
Perpaduan metode restorasi dengan AI, kini para peneliti IPB University berhasil memprediksi besaran nilai keindahan terumbu karang di area restorasi, yang setara dengan terumbu sehat alami.
Menurut Dr Beginer, di era media sosial dan keterbukaan informasi yang nyaris tanpa batas ini, penggunaan AI harus dilakukan dengan pertimbangan manfaat positif yang maksimal. Itulah sebabnya, kata dia, IPB University memanfaatkan AI dalam penelitian ini, untuk mendorong pemanfaatan teknologi AI dalam konservasi laut.
“Ke depannya IPB University akan memanfaatkan AI untuk memantau pemulihan ekosistem secara efisien dan objektif, mendukung upaya perlindungan laut di Indonesia dan dunia,” ujar Dr Beginer menunjukkan komitmennya. (*/Rz)

