Guru Besar IPB University: Mikrobioma Jadi Kunci Keberhasilan Konservasi Orang Utan Sumatra
Mikrobioma dinilai dapat menjadi elemen penting dalam menjaga kesehatan dan keberhasilan adaptasi orang utan sumatra pasca pelepasliaran dari penangkaran. Hal ini disampaikan Prof drh Safika dalam Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, Kamis (26/6).
Mikrobioma usus adalah merupakan sekumpulan mikroorganisme di usus yang berperan penting dalam fermentasi pakan, sintesis vitamin, produksi short-chain fatty acids (SCFA), detoksifikasi, dan modulasi sistem imun. Mikroorganisme itu mencakup bakteri, arkea, kapang, khamir, protozoa, dan virus.
“Metode ini dapat menjadi kunci keberhasilan konservasi orang utan sebagai satwa endemik Indonesia yang kini berstatus kritis,” ujarnya saat menyampaikan paparan melalui Zoom Meeting.
Prof Safika menemukan bahwa mikrobioma usus memiliki peran strategis dalam mendukung sistem imun dan metabolisme orang utan. Mikrobioma ini memengaruhi kemampuan adaptasi orang utan, terutama setelah proses rehabilitasi dan pelepasliaran ke alam.
Penelitian yang dilakukannya mengungkap, orang utan liar memiliki mikrobioma yang lebih beragam dan stabil dibandingkan individu di penangkaran. Sebaliknya, ketidakseimbangan mikrobioma (disbiosis) pada orang utan yang menjalani rehabilitasi seringkali menyebabkan gangguan pencernaan, peradangan kronis, dan bahkan kegagalan adaptasi.
“Mikrobioma bisa menjadi indikator non-invasif untuk menilai kesiapan pelepasliaran,” ujarnya. Ia menegaskan pentingnya menjadikan kesehatan mikrobiota sebagai bagian dari protokol standar dalam program konservasi orang utan.
Sebagai solusi, Prof Safika merekomendasikan penggunaan probiotik alami dari isolat lokal, yaitu Bakteri Asam Laktat (BAL) yang berasal dari orang utan liar. Jenis BAL seperti Lactobacillus plantarum dan Weissella paramesenteroides terbukti efektif memperkuat lapisan mukosa usus, menghambat pertumbuhan patogen, dan membantu memulihkan keseimbangan mikrobiota setelah pengobatan antibiotik.
“Karena probiotik merupakan bakteri hidup, kami kembangkan dengan metode enkapsulasi sehingga tetap stabil terhadap perubahan lingkungan dan dapat dipastikan tetap hidup sampai ke saluran pencernaan orang utan,” urainya.
Lebih lanjut, Prof Safika merekomendasikan integrasi pendekatan mikrobioma ke dalam sistem konservasi yang berbasis data dan genomik. Ia menyebutkan perlunya pemantauan mikrobioma secara berkala, penggunaan analisis genomik untuk mendeteksi disbiosis sejak dini, serta penerapan probiotik lokal sebagai bagian dari manajemen kesehatan satwa.
“Pendekatan ini bisa menjadi model konservasi baru, tidak hanya untuk orang utan, tapi juga satwa liar lainnya,” tutupnya. (MW)

