Dosen ARL IPB University Jadi Delegasi RI di Forum PBB, Bawa Ide RTH Ramah Anak untuk Pemulihan Pascabencana

Dosen ARL IPB University Jadi Delegasi RI di Forum PBB, Bawa Ide RTH Ramah Anak untuk Pemulihan Pascabencana

Dosen ARL IPB University Jadi Delegasi RI di Forum PBB, Bawa Ide RTH Ramah Anak untuk Pemulihan Pascabe
Riset dan Kepakaran

Dosen Arsitektur Lanskap (ARL), Fakultas Pertanian IPB University, Dewi Rezalini Anwar, SP, MADes terpilih sebagai delegasi perwakilan akademisi Indonesia di Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2025. 

GPDRR adalah forum pengurangan risiko bencana dunia yang diselenggarakan setiap tiga tahun sekali oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). GPDRR ke-8 dilaksanakan di Jenewa, Swiss pada 2-6 Juni 2025. 

Forum PBB untuk mengurangi risiko bencana ini diikuti lebih dari 3.400 peserta dari 166 negara di dunia. Peserta forum adalah delegasi dari berbagai negara di dunia, baik dari lembaga tinggi negara seperti presiden dan menteri, non-governmental organization (NGO), akademisi, hingga sektor privat.

“Proses menjadi delegasi forum ini melalui seleksi proposal dan curriculum vitae (CV). Saya berpartisipasi memberikan point of view berdasarkan latar belakang saya dalam berbagai sesi presentasi, diskusi, dan forum pemangku kepentingan yang fokus pada isu-isu pengurangan risiko bencana,” cerita Reza, panggilan akrabnya, (18/6).

Dalam forum PBB tersebut, Reza membawa perspektif dari risetnya tentang ruang terbuka hijau (RTH) ramah anak untuk pemulihan pascabencana dari sudut pandang arsitektur lanskap. Peneliti dan mahasiswa program doktor di University of Leeds, UK ini tertarik pada bagaimana desain ruang luar dapat membantu anak-anak pulih secara psikologis, fisik, dan sosial setelah mengalami bencana.

“Selama partisipasi saya dalam GPDRR2025, respons terhadap riset saya mengenai RTH ramah anak untuk pemulihan pascabencana cukup positif, terutama dari perwakilan negara-negara yang memiliki pengalaman menghadapi bencana alam secara berulang seperti Jepang, Filipina, dan Nepal,” katanya.

“Salah satu delegasi NGO yang aktif di wilayah pascabencana bahkan menyatakan ketertarikannya untuk mengeksplorasi kolaborasi lebih lanjut dan mengadaptasi pendekatan ini dalam proyek mereka,” ungkap dosen sekaligus praktisi arsitek lanskap ini.

Dia menambahkan, beberapa delegasi menyampaikan bahwa pendekatan berbasis ruang dan lanskap untuk mendukung pemulihan psikososial anak-anak sering kali terlewatkan. Selama ini, umumnya perencanaan pascabencana masih berfokus pada pemulihan jangka pendek dan infrastruktur.

“Diskusi yang muncul menyoroti pentingnya inklusivitas atau keterlibatan anak dalam desain ruang publik,” tutur dosen IPB University yang juga menjadi delegasi untuk International Federation of Landscape Architects (IFLA) dan humanity volunteer bersama SalamAid ini.

Selain itu, turut dibahas perlunya panduan atau kebijakan yang lebih spesifik untuk mengintegrasikan aspek yang lebih khusus lagi seperti healing environments, ruang mitigasi, atau ruang multifungsi dalam konteks kebencanaan untuk strategi pemulihan.

Menurutnya, respons semacam ini menunjukkan adanya kesenjangan yang selama ini belum banyak disentuh dalam kebijakan Disaster Risk Reduction (DRR), khususnya yang menyangkut kesejahteraan emosional anak-anak pascabencana melalui intervensi desain lanskap.

Reza merasa bersyukur bisa menjadi salah satu delegasi di forum PBB untuk mengurangi risiko bencana. “Saya melihat kesempatan ini sebagai ruang untuk belajar, berbagi, dan memperluas jaringan dengan berbagai pihak yang punya kepedulian yang sama terhadap pembangunan lingkungan yang lebih tangguh, inklusif, dan berpihak pada kelompok rentan seperti anak-anak,” pungkasnya. (MHT)