Departemen ITP IPB University Bersama PT Sasa Inti Gelar Seminar Pemenuhan Program Manajemen Risiko pada UMK Pangan Steril Komersial
Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP), Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) IPB University bekerja sama dengan PT Sasa Inti menyelenggarakan Seminar Nasional dengan judul ‘Pemenuhan Program Manajemen Risiko pada UMK Pangan Steril Komersial’. Seminar nasional ini diselenggarakan secara hybrid, belum lama ini.
Tak kurang dari 500 orang peserta mengikuti seminar ini. Peserta berasal dari berbagai kalangan, mulai akademisi, perwakilan Badan Pengawasn Obat dan Makanan (BPOM), praktisi, peneliti dan tentunya para pelaku usaha, baik usaha menengah dan kecil (UMK) maupun industri besar.
Prof Feri Kusnandar, Wakil Dekan Fateta IPB University bidang Akademik dan Kemahasiswaan mengatakan, “Kami sangat menyambut kerja sama antara Departemen ITP IPB University dengan PT Sasa Inti dalam rangka pembinaan UMK pangan, khususnya pangan steril komersial.” Lebih lanjut, ia mengharapkan bahwa kegiatan ini dapat berkontribusi dalam meningkatkan performa UMK pangan steril komersial di Indonesia.
Dalam acara ini, hadir pula Direktur Pengawasan Produksi Pangan Olahan – BPOM, Sondang Widya Estikasari, SSi, Apt, MKM. Ia menyampaikan bahwa Program Manajemen Risiko (PMR) adalah salah satu program unggulan BPOM yang dirancang dan dikembangan untuk industri olahan pangan dalam menjamin keamanan dan mutu pangan.
“PMR merupakan prioritas nasional yang terus dipantau kemajuan capaian kegiatannya. Hadirnya PMR mengubah paradigma pengawasan keamanan pangan dari product-based control ke preventive risk-based control,” ujar Sondang Widya Estikasari.
Penerapan PMR di industri pangan, termasuk UMK, diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, yaitu pada sektor kesehatan, obat dan makanan. PP tersebut merupakan regulasi teknis dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.
Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini tren pertumbuhan UMK yang memproduksi pangan olahan risiko tinggi berupa pangan kuliner nusantara steril yang dikemas dalam kaleng/kemasan retort pouch meningkat. Contoh produk tersebut antara lain rendang, gulai, gudeg dan sambal yang dikemas dalam kaleng/kemasan fleksibel dan tahan pada suhu ruang dalam jangka waktu yang lama. Melihat fakta tersebut, maka diperlukan keterlibatan banyak pihak dalam pendampingan UMK pangan steril komersial, terutama dalam rangka implementasi PMR.
Agus Sudarmoko yang menjabat sebagai General Manager (GM) Human Resource and Government Relation PT Sasa Inti menjelaskan, “Acara ini merupakan bagian dari corporate social responsibility (CSR) PT Sasa Inti. Ini merupakan salah satu ucapan rasa terima kasih kami kepada customer Sasa, khususnya UMKM yang menjadi mitra strategis PT Sasa Inti selama ini. Ke depannya kami berharap bahwa UMKM dapat memberikan jaminan mutu produk yang dihasilkannya.”
Pada kegiatan seminar ini, Prof Feri Kusnandar juga menyampaikan materi ‘Prinsip dan Urgensi PMR Bagi Keamanan Produk Pangan Steril Komersial’. Hadir juga Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Muda, verifikator PMR BPOM, Retno Priyandani, SFarm, Apt yang membawakan materi ‘Kiat Pemenuhan PMR pada UMK Pangan Steril Komersial’.
Setelah kegiatan seminar ini, akan ada program pendampingan UMK pangan steril komersial yang mencakup pelatihan dan pendampingan penyusunan dokumen Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) dan Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP). Tak hanya itu, pendampingan juga berkaitan dengan prosedur operasional baku untuk proses terjadwal dalam produksi pangan steril komersial hingga validasi kecukupan proses panas bagi UMK pangan steril komersial di Indonesia.
Kegiatan pendampingan tersebut nantinya akan melibatkan tim tenaga ahli dari Departemen ITP IPB University, tim PT Sasa Inti serta berkoordinasi dengan BPOM RI. (*/Rz)
