Pusat Studi Reklamasi Tambang IPB University Jalin Kerja Sama dengan Pemerintah Jerman
Pusat Studi Reklamasi Tambang (Pusdi Reklatam) IPB University melanjutkan kerja sama dengan Bundesanstalt für Geowissenschaften und Rohstoffe (BGR), Jerman. Kerja sama kedua pihak telah terjalin sebelum terjadinya pandemi COVID-19.
Bundesanstalt für Geowissenschaften und Rohstoffe, dalam bahasa Indonesia berarti Institut Federal untuk Geosains dan Sumberdaya Alam, sebuah institusi pemerintah Jerman yang sangat peduli dengan kelestarian sumber daya alam, khususnya di areal pertambangan. BGR telah merintis kerja sama dengan Pusdi Reklatam untuk penelitian, pembuatan pedoman reklamasi bekas tambang timah dan desain plot demonstrasi di Pulau Bangka tahun 2017 dan 2018.
Dalam diskusi antara tim dari BGR yang dipimpin Mr Philip Schütte, ia memaparkan hasil kerja sama penelitian dan kegiatan reklamasi lahan bekas tambang timah di Pulau Bangka tahun 2019. Mr Philip menjelaskan permasalahan yang masih dihadapi saat meninjau hasil reklamasi untuk tanaman pangan dan tanaman kehutanan di lahan bekas tambang timah di Bangka.
“Para petani yang ikut dalam program pengembangan tanaman pangan kurang menjiwai sebagai petani karena mereka sebetulnya lebih cenderung sebagai penambang. Menambang timah diyakini lebih menjamin kehidupan mereka. Sementara itu, untuk reklamasi lahan tambang dengan tanaman kehutanan, hasil pertumbuhannya sangat bagus. Namun masih sering dirusak masyarakat karena lahannya ditambang kembali,” paparnya.
Pada kesempatan itu, Kepala Pusdi Reklatam IPB University, Dr Suwardi menjelaskan teknik reklamasi lahan bekas tambang nikel dan batu bara yang sedang diteliti dan dilakukan. Pada tambang nikel, tanaman yang sulit tumbuh di lahan bekas tambang, dipersiapkan lubang-lubang penanaman yang diisi dengan artificial soils yang dibuat dari campuran tanah pucuk dan kompos. Kemudian bibit tanaman yang ditanam diambil dari tanaman hutan yang sudah tumbuh pada lahan yang akan ditambang berikutnya.
“Untuk tambang batu bara, tantangan yang dihadapi selain tanahnya masam, sering dihasilkan air asam tambang. Penataan tanah masam harus mempertimbangkan bahan tanah yang berpotensi menghasilkan air asam tambang. Bahan tersebut dikubur di dalam tanah dan permukaan tanahnya segera ditutup dengan cover crops dan tanaman fast growing plants segera ditanam di atasnya. Penanganan air asam tambang yang bersifat beracun perlu diendapkan beberapa tahap dan diberi perlakuan seperti kapur, zeolite dan lainnya sampai air siap dialirkan ke perairan umum,” jelas dia.
“Pusdi Reklatam IPB University dan BGR sepakat melanjutkan kerja sama penelitian pada reklamasi lahan bekas tambang nikel dan batu bara. Hasil penelitian akan didiskusikan secara mendalam dengan para peneliti lain dan pimpinan perusahaan tambang. Hal itu agar hasilnya bisa diterapkan untuk mempercepat dan meningkatkan tingkat kesuksesan reklamasi tambang nikel dan batu bara di Indonesia,” tutup Dr Suwardi.
Pada diskusi tersebut, Mr Philip Schütte juga didampingi tim BGR antara lain Mr Wolfgang dan Mrs Heidi Feldt. Sementara, tim Pusdi Reklatam IPB University terdiri dari Prof Sri Wilarso Budi R, Dr Iskandar dan Dr Dyah Tjahyandari Suryaningtyas. (*/Rz)
