Diskusi Sistem Integrasi Horizontal Ekonomi Desa untuk Industri Pangan Bangsa, Kerja Bareng PSP3 IPB University, AIPI dan KIPD
Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) IPB University bekerja sama dengan Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar (KIPD) dan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menyelenggarakan seminar nasional bertajuk ‘Sistem Integrasi Horizontal Ekonomi Desa untuk Industri Pangan Bangsa (SINTHESA IPB)’ pada Kamis (6/7) secara hybrid di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat.
Ketua AIPI, Prof Daniel Murdiyarso mengatakan, kegiatan ini merupakan langkah yang tepat di masa pascapandemi sehingga gairah masyarakat pedesaan bisa semakin meningkat. Seminar ini juga diharapkan dapat mendorong para petani dan peternak menuju satu aktivitas yang produktif yang didasari ilmu pengetahuan.
“Aspek percepatan ini juga ingin kita coba dorong agar bisa mengakselerasi ketinggalan yang telah terjadi selama masa pandemi. Saya atas nama AIPI menyambut acara ini dengan harapan agar forum ini bisa bekerja sama dengan siapapun, salah satunya PSP3 IPB University,” ujar Prof Daniel.
Prof Ernan Rustiadi, Wakil Rektor IPB University bidang Riset, Inovasi dan Pengembangan Agromaritim yang hadir pada kegiatan tersebut mengatakan bahwa telah terjadi perkembangan yang signifikan dalam pembangunan pedesaan. Salah satu hal yang penting dan menjadi cikal bakal adanya undang-undang desa adalah ketimpangan antara desa dan kota.
“IPB University memiliki PSP3 dan menghadirkan inovasi Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) yang sudah diinisiasi dan tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. IPB University juga melaksanakan kerja sama dengan berbagai pihak untuk bisa mengembangkan SPR agar dapat mendampingi masyarakat peternak di lapangan,” jelasnya.
Ia melanjutkan, konsep baru bertajuk SINTHESA-IPB merupakan lanjutan dari SPR dan diperkenalkan dalam seminar nasional atas kerja sama IPB University, AIPI, Yayasan Kesejahteraan Karyawan Bank Indonesia (YKBBI) dan Solidaritas Alumni Sekolah Peternakan Rakyat (SASPRI).
“Melalui seminar ini saya sangat berharap pemikiran dan pemangku kepentingan di bidang peternakan dapat memberikan penyempurnaan untuk dikembangkan di masyarakat,” tandasnya.
Prof Muladno, Kepala PSP3 IPB University dalam kesempatan itu membahas mengenai implementasi SHINTESA-IPB dan pengembangannya di Indonesia. Dalam pemaparannya, Prof Muladno mengajak para peternak dan petani untuk berbisnis secara kolektif agar lebih efektif.
“Di SPR dengan kurun waktu tertentu, para peternak diberikan ilmu supaya ketika lulus ia sudah bisa menjadi pengusaha. Kemudian, di SASPRI kita juga mengurus para alumni SPR agar ilmu yang sudah didapat tidak gugur begitu saja, mereka diikutsertakan untuk sertifikasi hingga mereka mandiri untuk bisa menjadi pengusaha,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, nantinya diharapkan petani bisa menjadi produsen bahan pangan/pakan. Sementara para peternak bisa menjadi produsen ternak hidup/daging/pupuk secara kolektif di pedesaan, sehingga akan berdampak di masyarakat. Salah satu dampaknya ialah efisiensi dan produktivitas dalam usaha pertanian dan peternakan di pedesaan menjadi lebih tinggi, karena skala usaha besar dan didukung ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) hingga membuka peluang usaha di pedesaan, sehingga dapat mencegah laju urbanisasi.
Terdapat tiga narasumber yang hadir, yakni Drs Sokhiatulo Laoli, Ketua Dewan Pembina YKBBI sekaligus Bupati Nias Periode 2011-2021; Dr Andriko Noto Susanto, Deputi III Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Badan Pangan Nasional; dan Prof Jatna Supriatna, Ketua Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar AIPI. Kegiatan juga dimoderatori oleh Dr Bramada W Putera, dosen IPB University dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (INTP), Fakultas Peternakan. (Lp/Rz)
