IPB University Hadiri Dies Natalis Ke-105 Wageningen University and Research

IPB University Hadiri Dies Natalis Ke-105 Wageningen University and Research

ipb-university-hadiri-dies-natalis-ke-105-wageningen-university-and-research-news
Berita

Sejumlah guru besar IPB University turut hadir dalam peringatan Dies Natalis Ke-105 Wageningen University and Research (WUR), (9/3). Guru besar IPB University yang hadir di antaranya Prof Iskandar Z Siregar, Prof Yonni Koesmaryono, Prof Arief Daryanto, Prof Indra Jaya, Prof Ario Damar, dan Prof Nunung Nuryartono.

“Menghadiri Dies Natalis ke-105 WUR memberikan banyak pelajaran dari segi event serta format acaranya. Dalam usia yang sudah mencapai 105 tahun, WUR meneguhkan jati diri universitas menjadi pusat ilmu pengetahuan berkelas dunia bidang agricultural science,” ujar Prof Iskandar Z Siregar.

Wakil Rektor IPB University bidang Konektivitas Global, Kerjasama dan Alumni itu mengatakan, setidaknya ada dua hal penting yang dapat diambil dalam event ini. Pertama, konsep global research and thinking yang dikembangkan. Kedua, pengakuan terhadap eksistensi ilmu pengetahuan bagi penyelesaian masalah global.

Untuk bagian kedua ini, WUR memberikan tiga gelar honoris causa (HC) kepada periset dan pengabdi ternama. Ketiga penerima honoris causa merupakan para profesor dari perguruan tinggi ternama. Antara lain, Prof Dannis David Baldochi (University of California Berkeley, Amerika Serikat/AS), Prof Valerie Trouet (University of Arizona, AS) dan Prof Willy Verstraete (Ghent University, Belgia).

Pemberian HC kepada Prof Dannis David Baldochi dilakukan atas dedikasi risetnya pada climate change. Prof Dannis David Baldochi melihat isu climate sebagai sebuah riset strategis untuk keberlanjutan hidup manusia. Ia mengembangan Climate Change Monitoring Station, sebuah fasilitas riset climate yang kemudian menjadi sebuah stasiun yang banyak dimanfaatkan mahasiswa doktoral.

Prof Valerie Trouet juga mengkaji tentang climate dengan media kayu. Sementara, WUR memberikan HC kepada Prof Willy Verstraete karena telah mendedikasikan dirinya dalam bidang bioteknologi pengolahan air limbah. Dengan riset dan dedikasi, proses pengolahan limbah komunal berjalan dengan baik sampai ratusan tahun dalam bidang mikrobiologi.

“Pembelajaran dari HC ini semakin meneguhkan WUR sebagai universitas besar dan global. Pengakuan terhadap ilmu pengetahuan yang digunakan dalam menyelesaikan persoalan bangsa adalah sesuatu yang bernilai,” sebut Prof Iskandar.

Selain itu, WUR juga memberikan Research Award kepada hasil riset terbaik yang dimenangi Belwina Koopal yang membahas ‘Short Prokaryotic Argonaute System Trigger Cell Death Upon Detection on Invading DNA’. Atas keberhasilannya, Belwina Koopal mendapatkan penghargaan sebesar 2.500 euro.

Dalam forum ini juga disajikan pemaparan dengan tema Blue Transition. Agenda pembangunan blue ekonomi yang dilihat saat ini masih harus menghadapi berbagai tantangan di antaranya pencemaran, plastik, climate change yang disebut sebagai marine crisis.

“Marine crisis menjadi tantangan terbesar dalam mewujudkan Blue Agenda, sehingga perlu transformasi yang besar, tidak hanya paradigma, tapi juga cara dan gaya bekerja yang dikenalkan sebagai shifting of marine economic,” pungkas Prof Iskandar. (*/Rz