Dosen IPB Kembangkan Rumpon Portable

Dosen IPB Kembangkan Rumpon Portable

tim-peneliti-ipb-kembangkan-rumpon-portable-untuk-tuna-tongkol-cakalang-news
Berita

Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (FPIK IPB) dan Sekolah Tinggi Perikanan kembangkan rumpon portable untuk penangkapan ikan Tuna, Tongkol, Cakalang (TTC). Tim dosen IPB yang terdiri dari Dr. Mala Nurilmala, Dr. Roza Yusfiandayani, Prof. Dr. Nurjanah, Dr. Ir. M. Fedi A. Sondita, Dr. Asadatun Abdullah, Rahmat Mualim, M.Si., Afriana, M.Sc dan Hery, M.Si ini melakukan riset dengan judul Pengembangan Teknologi Rumpon dan Penjaminan Mutu Terintegrasi untuk Perikanan Tuna, Tongkol, Cakalang yang Berkelanjutan.  
Menurut Roza, penggunaan rumpon itu positif bagi usaha penangkapan ikan. Tetapi ada sisi lain yang dapat mengancam keberlanjutan perikanan terutama jika nelayan berlebihan menangkap ikan muda. Perlu dikembangkan rumpon yang sesuai yang menjaga kelestarian ikan. 
“Menyikapi adanya permasalahan tersebut kami kembangkan inovasi teknologi rumpon, yakni rumpon portable. Rumpon portable merupakan pengembangan dari rumpon konvensional yang menggunakan konsep respon ikan terkait penggunaan frekuensi suara dan tali rafia pada atraktor. Keuntungan rumpon portable yakni ringkas, mudah dikemas dan dioperasikan, memiliki fitur lampu, tali rafia dan frekuensi suara, daya tahan lama, ekonomis, menghemat bahan bakar minyak karena tidak melakukan pengejaran kelompok ikan, dapat dioperasikan di mana saja dan perawatannya mudah,” ujar Peneliti IPB.
Pengoperasian rumpon portable tidak dilakukan secara menetap melainkan dapat berpindah lokasi sesuai dengan daerah penangkapan yang diinginkan. Ketika tidak digunakan, rumpon tersebut dapat dibawa dan dipindahkan ke daerah lain atau disimpan hingga dilakukan operasi penangkapan ikan selanjutnya.
“Pada riset ini, penjaminan mutu terintegrasi untuk mempertahankan kesegaran ikan akan dilakukan dengan pengembangan metode deteksi cepat dan akurat. Teknik handling TTC akan dikembangkan sehingga kualitas mutunya prima. Deteksi cepat histamin akan dikembangkan secara molekuler dengan Polymerase Chain Reaction (PCR), sehingga histamin yang selama ini menjadi permasalahan dapat diatasi secara cepat dan akurat. Mitra perusahaan yang terlibat, akan mendukung penyediaan es bubur (slurry ice) yang selama ini belum dikembangkan di Indonesia. Es ini dapat mempertahankan kesegaran TTC sehingga ikan dapat dijual dengan mutu prima dan harga tinggi,” imbuh dosen IPB ini. (**/Zul)