Industri Pangan, Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi

Industri Pangan, Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi

industri-pangan-lokomotif-pertumbuhan-ekonomi-news
Berita

Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) bekerja sama dengan Indonesia Food and Innovation Center (IFIC) dan Nielsen Indonesia, Jumat (15/2) di Gedung Menara KADIN telah melaksanakan seminar dengan tema “Percepatan Industri Pangan Sebagai Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi”. Hasil diskusi akan dirumuskan menjadi road map yang akan diberikan kepada pemerintah (presiden dan kementerian terkait) untuk menjadi masukan.

Dalam kesempatan ini Dr. Arief Daryanto, Dekan Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Adjunct Professor University of New England Australia diundang sebagai salah satu narasumber dalam seminar tersebut.  Dr. Arief Daryanto  menyampaikan dalam meningkatkan produktivitas dan daya saing industri pangan para pelaku industri dan penentu kebijakan perlu  memahami konsep dan implementasi pendekatan sistem pangan  atau food system approach yang berkelanjutan.

Dr. Arief Daryanto menjelaskan pentingnya cara berpikir mengenai dinamika produksi dan konsumsi makanan dan minuman sebagai bagian dari sistem pangan yang lebih besar dan pentingnya pendekatan terpadu dalam menganalisis struktur, perilaku dan kinerja sistem pangan nasional. “Industri pangan merupakan kegiatan yang menambah nilai  atau value addition activities yang  kompleks sifatnya, tidak hanya berfokus pada satu aspek atau masalah saja, tetapi juga pada bagaimana semua elemen dari suatu sistem bersatu dan berinteraksi satu sama lain,” jelas Dr. Arief Daryanto. 

Lebih lanjut Dr. Arief Daryanto mengatakan bahwa makanan yang tersaji di piring kita adalah produk dari berbagai tindakan, hubungan dan proses yang membentuk sistem pangan. Sistem pangan tidak hanya perlu menjaga availability (ketersediaan) tetapi juga accessibility (keterjangkauan), kualitas dan keamanan pangan.

“Sistem pangan di Indonesia saat ini masih bersifat fragmented, broken links antar sub sistem dan masih banyak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Pendekatan sistem pangan membantu mengatur pemikiran kita tentang bagaimana berbagai aktor atau pelaku sistem pangan dapat bersatu untuk meningkatkan ketahanan pangan dan nutrisi. Tantangan utama kita ke depan adalah bagaimana memproduksi pangan dengan lebih banyak, lebih berkualitas, lebih terjangkau dan lebih berkelanjutan dengan menggunakan input yang lebih sedikit (grow more, better, more sustainable, more affordable food with less inputs),” paparnya.

Narasumber lain dalam seminar tersebut adalah Prof. Drajad Irianto, Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) yang membahas mengenai Industri 4.0, Prof. Purwiyatno Hariyadi, Guru Besar IPB yang membahas mengenai ketahanan pangan dan Agus Nurudin, Managing Director Nielsen Indonesia yang membahas mengenai ritel dan distribusi dalam industri pangan. (AD/ris)