Langkah Nyata SV-IPB dalam Pencegahan Perilaku Menyimpang Mahasiswa

Langkah Nyata SV-IPB dalam Pencegahan Perilaku Menyimpang Mahasiswa

langkah-nyata-sv-ipb-dalam-pencegahan-perilaku-menyimpang-mahasiswa-news
Berita

Perilaku menyimpang di dunia pendidikan bagaikan fenomena gunung es. Jika tidak segera ditangani secara serius, akan merugikan dan menciptakan lingkungan yang tidak kondusif. Untuk itu sivitas akademika perlu berperan aktif untuk mencegah perilaku menyimpang pada mahasiswa. Hal ini disampaikan dalam sambutan Ketua Tim Bimbingan dan Konseling Sekolah Vokasi (SV) Institut Pertanian Bogor (IPB), drh. Henny Endah A, MSc., sebagai penyelenggara acara Seminar Nasional Pencegahan Perilaku Menyimpang pada Mahasiswa (16/2) di IPB International Convention Center (IICC), Bogor.

Acara ini dihadiri oleh 110 orang peserta meliputi anggota Tim Bimbingan dan Konseling Sekolah Vokasi IPB, Konselor IPB, mahasiswa, dosen, dan tamu undangan lainnya. Dalam seminar ini, hadir sebagai narasumber adalah Prof. Euis Sunarti, Guru Besar IPB yang juga Pegiat Keluarga (Giga), Drs. Nugraha Setia Budhi selaku Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Bogor, dan Irfan Amalee, MA  mewakili Peace Generation Consultant. 

Dekan Sekolah Vokasi IPB, Dr. Ir. Arief Darjanto, M.Ec menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah nyata tindak lanjut dari program Rektor IPB untuk mencegah terjadinya perilaku menyimpang pada mahasiswa sehingga para konselor dapat mengidentifikasi sedini mungkin dan mengutamakan tindakan preventif dalam menyikapi masalah ini. Menurutnya, perilaku menyimpang dikategorikan dalam tiga topik yaitu penyimpangan seksual (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender/LGBT), penyalahgunaan narkoba dan radikalisme. 

“IPB harus memberikan lingkungan belajar yang kondusif dan terhindar dari perilaku menyimpang yang kontra produktif,” tegasnya. 

Pernyataan serupa dipertegas kembali oleh Rektor IPB, Dr. Arif Satria dalam sambutannya yang menyatakan bahwa sikap IPB sangat jelas terhadap perilaku menyimpang karena IPB bertanggung jawab untuk menjaga amanah orang tua dalam menghasilkan lulusan yang memiliki tiga pilar yaitu karakter, softskill dan hardskill yang seimbang dengan proporsi yang sama. 
“Bimbingan dan Konseling (BK) memiliki peran besar dalam menjaga dan memperkuat karakter karena itu menjaga moralitas menjadi sangat penting karena hal ini akan memperkuat karakter,” ujarnya. 

Menurutnya, bimbingan dan konseling adalah persoalan komunikasi. Kemampuan yang paling penting dalam konseling adalah kemampuan mendengarkan. Lebih lanjut, beliau menjelaskan peran IPB sangat besar dalam mencegah penyimpangan seksual, misalnya dalam konteks makanan yaitu dengan terus mendorong pangan organik. “Residu pestisida yang masih sering melekat di sayuran dapat berdampak pada menggerus maskulinitas seseorang. Oleh karena itu, penyelesaian masalah ini harus dilakukan secara sistemik, komprehensif dan holistik,” imbuhnya.

Dalam sesi pemaparan materi, Prof. Euis Sunarti menyatakan bahwa kegiatan ini adalah momen yang sangat dinantikannya selama dua tahun untuk menyampaikan magnitude, identifikasi dan penanganan awal fenomena LGBT terhadap para konselor terkait perilaku menyimpang. “Ada kebutuhan bantuan, dukungan untuk mereka-mereka yang terjebak dalam perilaku menyimpang yang tidak tahu harus kemana dan bertanya kepada siapa, sehingga ketika ada pihak yang memberi pengaruh buruk maka penyimpangan ini akan semakin jauh bahkan sampai coming out dan merela menjadi LGBT,” ujarnya. 

Menurutnya, salah satu teori yang dapat diterapkan dalam bimbingan dan konseling terhadap pelaku menyimpang adalah dengan melakukan terapi neuro plasticity dimana kapasitas otak manusia dapat berubah setelah distimulasi dengan berbagai hal positif secara terus menerus sehingga pada satu titik pelaku homo akan dapat disembuhkan. Hal ini merupakan hasil riset yang telah dilakukan para psikolog di Amerika terhadap 200 orang homo yang dapat disembuhkan. 

“Maka bersegeralah, karena waktu ini sangat berharga untuk mereka dan kita menentukan dapat menyelamatkan dengan cepat atau tidak. Perlu ditinjau kembali fasilitas asrama karena dalam satu ruang dihuni oleh 4 orang sangat mengkhawatirkan. Pada dasarnya intinya adalah pencegahan,” tegasnya. 

Untuk menindaklanjuti kegiatan ini, panitia akan sosialisasikan kembali materi pencegahan perilaku menyimpang terhadap seluruh mahasiswa Sekolah Vokasi IPB dalam kegiatan safari konseling yang direncanakan akan diselenggarakan pada bulan Februari/Maret mendatang. (YDI/Zul)