Setiap Hari Ratusan Orang Berobat ke RSCM Akibat Penyimpangan Seksual

Setiap Hari Ratusan Orang Berobat ke RSCM Akibat Penyimpangan Seksual

setiap-hari-ratusan-orang-berobat-ke-rscm-akibat-penyimpangan-seksual-news
Berita

Dr. Hanny Nilasari, Sp.KK, spesialis infeksi menular seksual dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) mengatakan bahwa saat ini ada sekira 100-200 pasien yang berobat ke RSCM akibat perilaku penyimpangan seksual sejenis. Fakta menyedihkan ini ia sampaikan saat menjadi pembicara Sosialisasi Bahaya LGBT yang bertajuk “Menyelamatkan Generasi Penerus Bangsa dari Malapetaka Moral Perilaku Penyimpangan Seksual Sejenis” di Auditorium Andi Hakim Nasoetion, Kampus IPB Dramaga, Bogor (23/1).

Kegiatan yang terselenggara berkat kerjasama Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia ini menghadirkan Dr. Sri Astuti Bukhori (Wakil Ketua Umum ICMI), Prof. Aida Vitayala Hubeis (Guru Besar IPB), Dr. Didit Hidayat A. Ratam (Pakar Keuangan), Dr. Asrorum Niam Sholleh (Pakar Hukum Islam) dan Dr. Hanny Nilasari dari RSCM.

Melihat fakta akan dampak merusak yang ditimbulkan oleh perilaku menyimpang ini, ICMI menggandeng IPB untuk sama-sama mengendalikan dan menyelamatkan generasi penerus bangsa. Menurut Dr. Sri, ICMI adalah satu-satunya lembaga di Indonesia yang terang-terangan menolak perilaku menyimpang ini.

Yang lebih menyedihkan, perilaku ini sudah menjadi gerakan yang kuat dan sudah 26 negara yang melegalkan perilaku menyimpang ini. Pendanaan dan dukungan internasional yang kuat membuat perilaku menyimpang ini menjadi sah. Mereka menganggap perilaku menyimpang ini adalah bagian dari hak asasi manusia.

Padahal banyak riset di negara-negara pendukung perilaku menyimpang ini yang menyebutkan bahwa gaya hidup tersebut tidak benar dan menjadi masalah sosial. Temuan di Jurnal Sexuality Medicine menyebutkan bahwa riset-riset tentang penyedia jasa kesehatan yang dibutuhkan oleh pelaku LGBT tidak banyak tersedia. Bahkan dokter-dokter di Amerika pun belum siap.

Di Indonesia, data mengenai jumlah pelaku Lesbian, Gay, Biseks, Transgender dan Queer (LGBTQ) masih terbatas. Estimasi jumlah Lelaki Suka Lelaki (LSL) mencapai 754.310 (tahun 2016) dan yang mengidap HIV 25 persen. Sementara itu untuk estimasi jumlah waria sekira 38.928 (tahun 2016) dan yang mengidap HIVnya 24,4 persen.

“Untuk itu, kampus kami gandeng untuk ikut mengendalikan segala hal yang menyimpang. Selain itu, ICMI sedang mendorong para gubernur dan DPR untuk menerbitkan Perda pelarangan. Ini kami lakukan agar generasi kita tidak punah,” ujarnya.

Menurut salah satu pendiri ICMI dan Guru Besar IPB, Prof. Aida, faktor komunikasi dalam keluarga sangat penting untuk melindungi generasi muda. Komunikasi diibaratkan sebagai darah yang mengalir pada tubuh manusia. Jika berhenti mengalir maka matilah keluarga. Kegagalan komunikasi dan sosialisasi bahaya perilaku menyimpang ini akan berdampak pada kelanjutan generasi penerus bangsa. “Ini adalah tanggung jawab kita di dunia dan akherat kelak,” ujarnya.

Oleh karena itu, dalam sambutannya Rektor IPB, Dr. Arif Satria menegaskan akan menjaga titipan amanah orang tua untuk mendidik mahasiswa agar tidak terpapar perilaku menyimpang ini.

“Kita tidak ingin perilaku ini menjadi kerikil yang bisa menghancurkan kita semua. Banyak faktor yang berpengaruh terhadap munculnya perilaku menyimpang ini. Misalnya mengkonsumsi makanan yang tidak ramah lingkungan. Banyak residu pestisida yang masuk ke tubuh kita yang berisiko menurunkan hormon maskulin dan meningkatkan hormon feminin,” ujarnya.

Ilmu kedokteran di Jepang kini sudah tidak bicara tentang human medicine tetapi mengarah kepada gagasan sustainability yang memiliki dampak sistemik. Misalnya kesehatan lingkungan, kesehatan jiwa, makanan, suasana sosial dan alam yang baik, good family dan good friend.

“Kita tentu harus  saling menasehati, saling komunikasi dalam rangka menyelamatkan generasi bangsa. Saya dukung langkah ICMI. Ini perjuangan harus dari berbagai lini,” tandasnya.(dh/Zul)