Departemen KSHE Fakultas Kehutanan IPB Peringati Hari Lahan Basah
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE) Fakultas Kehutanan (Fahutan) Institut Pertanian Bogor (IPB) mengadakan sarasehan dalam rangka memperingati Hari Lahan Basah yang diperingati setiap tanggal 2 Februari. Sarasehan yang mengusung tema “Konservasi Ekosistem Mangrove sebagai Sistem Penyangga Kehidupan” ini digelar di Fahutan IPB, kampus Dramaga, Bogor.
Ketua Departemen KSHE Fahutan IPB, Dr. Nyoto Santoso, menjelaskan, tujuan diselenggarakan sarasehan ini adalah untuk mengkaji perkembangan terkini kebijakan pengelolaan ekosistem mangrove di Indonesia; mengkaji berbagai permasalahan pengelolaan ekosistem mangrove; menggali pemikiran-pemikiran pengelolaan ekosistem mangrove berkelanjutan; dan merumuskan langkah-langkah konservasi ekosistem mangrove sebagai sistem penyangga kehidupan di Indonesia.
“Harapannya dapat mengkonsolidasikan para pemerhati mangrove yang terdiri dari pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, lembaga swadaya masyarakat dan swasta, sehingga dalam pengelolaan mangrove tidak kehilangan arah. IPB sebagai perguran tinggi ingin memberikan kontribusi dan arah dalam pengelolaan mangrove yang baik dan berhasil,” ujarnya.
Dekan Fahutan IPB, Dr. Rinekso Soekmadi, menyampaikan, ekosistem mangrove bersifat unik dan memiliki berbagai fungsi dan manfaat, tapi saat ini belum dirasakan fungsi dan manfaatnya secara maksimal. Ekosistem mangrove sebagai ekosistem peralihan antara darat dan laut telah diketahui mempunyai berbagai fungsi, yaitu sebagai penghasil bahan organik, tempat berlindung berbagai jenis binatang, tempat memijah berbagai jenis ikan dan udang, serta sebagai pelindung pantai.
Dr. Rinekso menambahkan, mengingat betapa pentingnya arti kelestarian hutan bakau ini atau pengelolaan mangrove bagi kelangsungan hidup ekosistem kelautan, maka sudah selayaknya apabila pemerintah daerah, perguruan tinggi dan swasta harus memperhatikan keselamatan hutan-hutan bakau yang ada di wilayah Indonesia.
“Tak terbayangkan apa yang akan dirasakan oleh seluruh masyarakat kepulauan yang ada di Indonesia ini, bila suatu saat kelak ekosistem hutan mangrove (hutan bakau) ini hancur atau bahkan musnah. Seberapa besar nilai kerugian dan keseimbangan yang akan didapat, dan seimbangkah dengan pendapatan dan penghasilan dari kegiatan perekonomian yang hanya akan berdampak bagi kehidupan masyarakat pantai?” paparnya.
Rektor IPB, Dr. Arif Satria, mengatakan, sarasehan ini merupakan langkah yang baik dalam pengelolaan dan ekosistem mangrove sebagai sistem penyangga kehidupan. Manfaat dan fungsi mangrove sangat penting untuk melestarikan contoh-contoh perwakilan habitat dengan tipe-tipe ekosistemnya, melindungi jenis-jenis biota (dengan habitatnya) yang terancam punah, mengelola daerah yang penting bagi pembiakan jenis-jenis biota yang bernilai ekonomi, memanfaatkan daerah tersebut untuk usaha rekreasi, pariwisata, pendidikan dan penelitian, serta sebagai tempat pembanding bagi kegiatan monitoring tentang akibat manusia terhadap lingkungannya
Rektor menjelaskan, konservasi pengelolaan mangrove ada dua aspek, yaitu aspek teknis dalam pengelolaan dan aspek government. Dalam aspek government, pihak-pihak yang terkait dalam pengelolaan mangrove yang melibatkan pemerintah daerah. Di samping lembaga-lembaga lain, Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Kementerian Kelautan dan Perikanan, merupakan lembaga yang sangat berkompeten dalam pengelolaan mangrove. Koordinasi antar instansi yang terkait dengan pengelolaan mangrove adalah mendesak untuk dilakukan saat ini.
Sedangkan aspek teknis, terang rektor, yaitu pengelolaan ekosistem mangrove adalah bagaimana mengoptimalkan manfaat produksi dan manfaat ekologis dari ekosistem mangrove dengan menggunakan pendekatan ekosistem berdasarkan prinsip kelestarian hasil dan fungsi ekosistem yang bersangkutan. Selanjutnya, merehabilitasi hutan mangrove yang rusak, serta membangun dan memperkuat kerangka kelembagaan beserta Iptek yang kondusif bagi penyelenggaraan pengelolaan mangrove secara baik.
Rektor berharap, ke depannya IPB sebagai perguruan tinggi, terutama Departemen KSHE Fahutan IPB mempunyai etalase selain yang sudah ada di Gunung Walat. “IPB harus mempunyai etalase pengelolaan ekosistem mangrove dengan berbasis ekowisata yang bagus dan berhasil, bisa di Jakarta (Ancol),” ujar rektor.
Sarasehan ini menghadirkan pakar konservasi lingkungan dan mangrove, diantaranya Deputi Bidang Koordinasi Sumberdaya Alam dan Jasa Kemenko Kemaritiman, Ir. Agung Kuswandono; Guru Besar Departemen KSHE Fahutan IPB, Prof. Dr. Hadi S. Alikodra; Deputi Bidang Pangan dan Pertanian, Komenko Perekonomian, Ir. Musdhalifah Machmud, MT; Guru Besar Departemen Silvikultur Fahutan IPB, Prof. Dr. Cecep Kusmana; Kasubdit Reboisasi Direktorat Konsevasi Tanah dan Air, Dirjen Pengendalian Daerah Aliran Sungan dan Hutan Lindung (PDASHL) KLHK, Ir. Joko Pramono, M.Sc. (Awl)
