SBRC LPPM IPB Gelar Konferensi Internasional Biomassa
“2 nd International Conference on Biomass; toward Sustainable Biomass Utilization for Industrial and Energy Application” digelar di Salak Tower, Bogor (24-25/7). Acara ini dihelat oleh Surfactan and Bioenergy Research Center (SBRC) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerjasama dengan Pusat Unggulan Indonesia, Dirjen Dikti, Kemenristekdikti, Villanova University, Hirosima University, Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia, Universitas Lampung, Universitas Sriwijaya, Universitas Tadulako, Japan International Research Center for Agricultural Science, Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI), dan Asosiasi Biogas Indonesia (IKABI).
Acara ini dihadiri oleh peserta dari Jepang, Malaysia, USA, Indonesia yang melibatkan peneliti, praktisi dan kalangan bisnis. Dalam dua hari, konferensi ini membahas isu biomassa yang terkait dengan teknologi terkini dan pemanfaatannya untuk energi, industri serta isu keberlanjutan, dampaknya terhadap lingkungan, isu ekonomi dan tantangannya dari sisi kebijakan pemanfaatannya.
Selain itu dibahas juga terkait pemanfaatan biomassa, baik untuk energi maupun industri yang telah menjadi isu global. Setiap negara memiliki potensi biomassa yang berbeda. Di Indonesia, potensi lebih biomassa berasal dari limbah perkebunan kelapa sawit, karet, kelapa serta limbah pertanian. Perkebunan dan industri kelapa sawit Indonesia telah berkembang pesat selama tiga dekade terakhir. Bahkan sudah menjadi bagian penting dari struktur ekonomi nasional.
Pada tahun 2015, luas areal perkebunan kelapa sawit telah mencapai 11,3 juta hektar yang tersebar di 22 provinsi Indonesia. Perkebunan kelapa sawit mampu menghasilkan produksi minyak sawit mencapai 37, 5 juta ton; limbah batang tua mencapai 34 juta ton; pelepah 124 juta ton; tandan kosong 30 juta ton; mesocarp fiber 17 juta ton; cangkang 8 juta ton; palm karnel meal 3,5 juta ton, dan POME 73 juta ton.
Potensi biomassa minyak sawit dan limbahnya yang besar ini dapat dikonversi menjadi beragam produk bernilai tambah tinggi melalui pemanfaatan beragam teknologi, serta dapat diaplikasikan pada berbagai industri. Selain itu juga sebagai substitusi produk konvensional berbasis petroleum atau bahkan dapat menciptakan pasar baru untuk produk turunan dari limbah kelapa sawit.
Sebagai negara dengan potensi biomassa yang sangat besar, ironis jika biomassa belum banyak dimanfaatkan baik sebagai sumber energi maupun sebagai bahan baku industri. Sementara justru negara lain yang memanfaatkannya, misalnya sebagai bahan bakar untuk pembangkit tenaga listrik dalam bentuk pellet.
Dalam pemanfaatannya untuk sumber energi terbarukan, pemerintah berkomitmen untuk mengembangkan energi baru dan terbarukan (EBT) minimal 23 persen pada tahun 2025. Dimana salah satu sumber energi terbarukan yang sangat potensial berasal dari biomassa. Dalam pemanfaatan biomassa sebagai sumber di dalam negeri mengacu pada peraturan pemerintah No. 74 tahun 2014 pasal 5 ayat 6 dimana kemandirian energi dan ketahanan energi nasional dicapai dengan mewujudkan salah satunya adalah sumberdaya energi tidak dijadikan sebagai komoditas ekspor semata tetapi sebagai modal pembangunan nasional. Perubahan paradigma ini membawa konsekwensi perlunya sudut pandang yang berbeda dalam melihat sumber energi yang ada termasuk biomassa.
Mengingat potensi biomassa yang sangat besar, maka inovasi dan teknologi, dampak lingkungan, kajian kebijakan dan ekonomi yang terkait dengan memanfaatkan biomassa baik sebagai sumber energi maupun untuk industri perlu terus dikembangkan agar isu berkelanjutan dapat dipertahankan. Melalui diskusi di konferensi internasional biomassa yang kedua ini, diharapkan muncul inovasi dan solusi yang terkait dengan pemanfaatannya untuk energi dan aplikasi industri.***
