IPB dan AIPI Rumuskan Pengembangan Keilmuan 30 Tahun Mendatang

IPB dan AIPI Rumuskan Pengembangan Keilmuan 30 Tahun Mendatang

Berita
Dewan Guru Besar (DGB) Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerjasama dengan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menggelar seminar bertajuk “Pengembangan Keilmuan Menyongsong Seabad Indonesia Merdeka”, Senin (5/10). Seminar yang digelar di Ruang Sidang Senat Akademik Gedung Andi Hakim Nasoetion Kampus IPB Dramaga Bogor  ini dihadiri puluhan ilmuwan muda yang terdiri dari dosen dan mahasiswa Pascasarjana IPB.
 
Kepala AIPI Prof. Sangkot Marzuki mengatakan bahwa diperkirakan pada tahun 2045 Science Culture Excellent di Indonesia akan banyak menghilang. “Saat ini science hanya untuk kepentingan industri dan ekonomi tanpa melihat prosesnya. Science itu tidak linear, kita tidak dapat gunakan science hanya untuk industri saja tanpa penguatan dasar ilmu. Saat ini dari seribu riset hanya seratus inovasi yang berhasil dihilirisasi. Dari seratus tersebut hanya satu yang jadi produk industri yang diandalkan,” ujarnya.
 
Salah kaprah pemahaman science juga terjadi, yakni hanya dianggap sebagai inovasi. Padahal science itu alat kebijakan, alat pola pikir, alat budaya dan juga alat diplomasi. Menurutnya, India adalah salah satu negara yang sadar betul dengan hal ini. Presiden Jawaharlal Nehru bahkan sampai memasukkan pentingnya science ke dalam undang-undang dasar India.
 
Sementara itu, menjelang seratus tahun Indonesia Merdeka, ilmuwan IPB yang tergabung dalam Panitia Ad Hoc (PAH) Pengembangan Keilmuan menduga kemungkinan perkembangan ilmu, khususnya yang berkaitan dengan pertanian dan memberi arah pengembangan sesuai dengan kebutuhan. Selain itu juga mengkaji strategi yang diperlukan untuk mencapai arah perkembangan ilmu yang diharapkan.
 
“Setelah kita pelajari ternyata konvergensi IPTEK itu menuju ke Sustainable Agriculture Development. Beberapa tantangannya adalah peningkatan populasi dan food insecurity, keterbatasan lahan dan sumberdaya, perubahan iklim dan masalah lingkungan, serta perhatian terhadap ketidaktahanan energi,” ujar Prof. Armansyah, peneliti dari Departemen Teknik Mesin dan Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) IPB saat mewakili PAH dalam seminar ini. 
 
Dengan statuta sebagai pertanian, kelautan dan biosains tropika serta ilmu-ilmu pendukungnya, strategi pencapaian yang berhasil dirumuskan adalah mengembangkan suasana akademis, fasilitas penelitian dan kebijakan yang baik demi pencapaian sasaran secara “by design”, serta meletakkan sasaran pada posisi sangat tinggi seperti meraih Nobel Award.(zul)