Prof.Dr.drh. Tuty Laswardi Tawarkan Strategi Pengembangan Inseminasi Buatan

Prof.Dr.drh. Tuty Laswardi Tawarkan Strategi Pengembangan Inseminasi Buatan

Prof-Tuty-L-yusuf...
Berita
 
Guru Besar Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof.Dr.drh. Tuty Laswardi mengatakan teknologi Inseminasi Buatan (IB) sudah dikenal di Indonesia sejak tahun 1954 dan mulai diaplikasikan secara massal pada ternak sapi setelah didirikan Balai Inseminasi Buatan (BIB) dan BIB Daerah (BIBD) untuk memproduksi dan mendistribusikan semen beku ke seluruh wilayah Indonesia. 
 
Masalah peternakan di Indonesia sangat kompleks sehingga mempengaruhi keberhasilan program IB dalam mendukung program swasembada daging nasional yang belum tercapai. Oleh karenanya, Prof. Tuty dalam konferensi pers pra orasi ilmiah guru besarnya di Exlounge Kampus IPB Baranangsiang, Bogor (30/8), menawarkan strategi pengembangan teknologi IB sehingga aplikasinya dapat dicapai secara optimal.
 
“Ada tujuh strategi yang saya miliki yakni perbaikan aspek teknis, sarana dan prasarana, akreditasi BIB dan sertifikasi produk benih, manajemen pakan, kesehatan dan sistem perkandangan, pengujian kualitas semen, standardisasi sumberdaya manusia di BIB, standar pelaksanaan IB di lapang dan pengembangan lahan rumput,” ujarnya.
 
Saat ini Indonesia telah memiliki 2 BIB, yakni BIB Lembang dan BIB Singosari, serta 13 BIBD. Sistem kontrol dan evaluasi terhadap berbagai aspek teknologi IB secara menyeluruh di Indonesia diperlukan peranan pemerintah pusat, pemerintah daerah para pakar yang berasal dari perguruan tinggi/lembaga penelitian serta pihak terkait untuk melakukan manajemen IB. Kajian yang dilakukan oleh perguruan tinggi dan lembaga penelitian dapat menjadi salah satu solusi dalam upaya pemenuhan kebutuhan pangan protein hewani asal ternak serta mempercepat pengembangan sektor peternakan. 
 
“Saat ini di Indonesia sedang berjalan program penanganan gangguan reproduksi (Gangrep) serta gertak berahi dan inseminasi buatan (GBIB) pada sapi dan kerbau secara nasional. Sapi dan kerbau yang mengalami gangguan fertilitas akan ditangani terlebih dahulu dan setelah normal akan di IB. Sapi-sapi betina yang bersiklus berahi normal akan disinkronisasi berahinya dan diinseminasi. Diharapkan program ini dapat dilakukan secara serius, terarah dan dapat memberi masukan kepada instansi terkait untuk dapat meningkatkan populasi sapi dan kerbau dalam waktu yang relatif cepat sehingga impian kita untuk swasembada daging dapat tercapai,” terangnya.(zul)