Kuliah Umum Bupati Kaur Bengkulu di IPB: “Membangun Indonesia dari Pinggiran”

Kuliah Umum Bupati Kaur Bengkulu di IPB: “Membangun Indonesia dari Pinggiran”

Bupati-kaur
Berita
Bupati Kaur Bengkulu, Dr Hermen Malik, menjadi narasumber tunggal pada kuliah umum bertajuk “Membangun Indonesia dari Pinggiran”, Selasa (19/5) di Kampus Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor (MB IPB) Pajajaran Bogor. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian (Dit.KSKP) IPB ini dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor IPB bidang Sumberdaya dan Kajian Strategis Prof.Dr Hermanto Siregar.
 
Dalam kata pengantarnya, Prof Hermanto mengatakan, pembangunan adalah pusat pertumbuhan bagi negara berkembang seperti Indonesia. “Kalau kita hanya menggenjot pusat pertumbuhan di perkotaan, dan tidak melakukannya di daerah pinggiran, maka yang akan terjadi justru menyedot sumberdaya dari daerah pinggiran ke kota. Dengan demikian kota makin menjadi jaya dan makmur, sedangkan desa-desa menjadi layu,  terdegradasi secara ekologi, ekonomi dan  terdegradasi sosial. Oleh karena itu, saatnya kita balik pembangunan dimulai harus dari desa terlebih dulu,” terang Prof Hermanto. 
 
Menurutnya, IPB sebagai perguruan tinggi pertanian terus mengembangkan wacana pertumbuhan sektor pertanian dari hulu ke hilir, utamanya dari desa. IPB telah banyak bekerjasama dengan pemerintah dan swasta untuk mengerjakan dan membangun lahan-lahan tidur untuk dialihfungsikan menjadi lahan yang produktif, untuk bisa dibudidayakan menjadi lahan yang siap menghasilkan produk olahan untuk kepentingan masyarakat.
 
Bupati Kaur Bengkulu dalam paparannya yang dipandu moderator Direktur KSKP IPB Dr Dodik Ridho Nurrochmat ini mengangkat tema, “Membangkitkan Kembali Jati Diri Bangsa”. Ia menyatakan, “Dalam pertumbuhan pembangunan harus ada keadilan dalam pekerjaan untuk kota dan desa, dengan mengedepankan jati diri bangsa yang berperilaku santun, kekeluargaan, gotong royong, keadilan, keragaman, dan religius. Harmonisasi sumberdaya pembangunan harus dibangun dengan sumberdaya pengetahuan, sistem pendidikan (budaya dan teknologi), sistem pelatihan, sistem ekonomi kerakyatan, sistem sosial dan budaya (kearifan lokal), sistem fisik (kesehatan dan olah raga), dan sistem estetika (mutu). Dengan tercapai harmonisasi sistem pendidikan, maka akan tercapai generasi berperadaban”. (awl)