Bondan Winarno: Perlu Unsur Investigasi dalam Penulisan

Bondan Winarno: Perlu Unsur Investigasi dalam Penulisan

DSC_0660
Berita

Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) Institut Pertanian Bogor (IPB) menghadirkan jurnalis kondang nasional Bondan Winarno dalam salah satu praktikum mahasiswa Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Praktikum yang terbuka untuk 100 peserta ini digelar di Ruang Sidang Senat Gedung Andi Hakim Nasoetion, Kampus IPB Dramaga, Bogor (4/12).

Selaku Dekan FEMA, Dr. Arif Satria mengatakan seorang penulis berhasil bukan karena bakat yang dimilikinya melainkan dari kerja keras dan latihan terus menerus. “Tulisan saya bisa dimuat di berbagai media bukan karena saya memiliki bakat menulis. Saya butuh waktu 15 tahun untuk bisa dimuat di koran, ini semua karena kemauan keras. Tulisan adalah suatu media yang baik untuk kita dalam dokumentasi pikiran (opini), dokumentasi khayalan (cerpen),” ujarnya.

Menurutnya, orang tuanya dulu pernah berpesan untuk rajin menulis karena menulis merupakan wiraswasta yang bisa dilakukan sampai kapanpun. Menulis itu seperti berenang atau belajar naik sepeda, tidak bisa dengan teori, harus dilakukan.

Untuk meningkatkan kemampuan menulis mahasiswanya, Dr. Arif pun menghadirkan jurnalis senior yang terkenal melalui kolom Jalan Sutera di Kompas tersebut. Tak hanya itu, Bondan Winarno juga sebagai seorang penulis yang berhasil mendorong berkembangnya wisata kuliner di Indonesia dengan slogannya yang terkenal, ‘Mak Nyus’.

Dalam paparannya yang berjudul Jurnalistik Investigatif, Pak Bondan mengkritisi citizen journalism Indonesia yang menurutnya sudah keblablasan. "Semua tulisan, khususnya yang di-publish itu harus mengikuti kaidah jurnalistik. Di dalam kebebasan itu ada responsibility. Ini yang hilang kalau hanya berlabel kreatif. Bakat itu penting but not everything, bakat cukup 1% saja sisanya keringat," terangnya.

“Mengapa tulisan saya tentang kuliner menjadi populer? Dulu ada seorang jurnalis muda berbakat yang belum lama kerja mengatakan kepada saya bahwa menulis kuliner itu hal sepele yang tidak pantas dilakukan oleb saya yang tak lain sebagai pimred. Saya katakan kepadanya, oke saya akan berhenti tapi dengan syarat besok kamu gantikan,” ucapnya. Ternyata jurnalis muda tersebut tidak bisa melakukannya. Dalam menulis kuliner justru ada unsur investigasi yang tidak bisa disepelekan.

“Di situ ada unsur investigasi. Sekalipun sederhana, tapi jika tidak melakukan penyelidikan maka hasil tulisannya ‘ampang’, tidak ada isinya,” ujarnya.

Menulis, kalau bahan kita cekak maka tidak mungkin kita akan menulis dengan baik. Untuk hal apapun kita perlu memperkaya bahan untuk menulis. Pasti tulisan kita akan berbeda.

Proses pengungkapan berita sebetulnya persis sama dengan proses dan kaidah pemberitaan pada umumnya, bedanya dalam jurnalistik investigasi, jurnalis berhadapan dengan sumber berita yang selalu menghindar atau tidak bersedia mengungkapkan apapun bahkan berusaha dengan segala cara untuk menghentikan proses investigasi yang dilakukan. Bahkan ada unsur ancaman yang cukup besar bagi jurnalisnya, terangnya.(zul)