Waduh, Perilaku Orangtua Pun Mendukung Aksi Penculikan Anak

Waduh, Perilaku Orangtua Pun Mendukung Aksi Penculikan Anak

Berita



Beberapa orang tua mungkin tidak
menyadari bahwa bentuk rasa sayang yang diberikan kepada anaknya itu
salah.  Bentuk rasa sayang yang salah inilah menjadi pemicu anak menjadi
korban penculikan. Secara tidak sadar hal ini memicu tamu tak diundang yang
bisa merugikan anak.

Misalnya, memberikan perhiasan
berlebihan, memberikan fasilitas seperti handphone yang pada dasarnya belum
cukup umur untuk menggunakannya, dan hal-hal lainnya yang mengundang seseorang
untuk berbuat negatif, yang berujung kepada aksi penculikan.

Hal ini dipaparkan oleh staf
pengajar Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK) Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB,
Ir.Meli Latifah, M.Sc. dalam acara Dialog Sore RRI, di RRI Bogor, dipandu presenter,
Dita Maharani (6/7). Tema ini diangkat karena kembali maraknya aksi penculikan
anak yang terjadi saat ini.

“Trend aksi penculikan terhadap
anak pada tahun 2000 hingga 2010 selalu meningkat. Banyak faktor mendukungnnya.
Diantaranya adalah ekonomi, perilaku orang tua, dan pengaruh media dan
teknologi,” tandas Ir. Meli.

Menurutnya tayangan media yang
mempertontonkan perilaku yang kurang baik sangat mendorong seseorang untuk
melakukan aksi penculikan. Misalnya tontonan yang serba materialistis, mendapatkan
sesuatu dengan instant, adegan kekerasan dan sebagainya. 

Sementara pelaku aksi penculikan,
menurutnya terjadi bukan hanya dilakukan oleh orang luar, malahan oleh orang
terdekat di lingkungna keluarga.

“Bukan kita mau berprasangka buruk
terhadap orang yang berada di lingkungan keluarga, namun kita harus waspada dan
berani memastikan latar belakang orang tersebut. Misalnya, apakah pernah berada
di lingkungan yang tidak baik, pernah terlibat dengan aksi kejahatan atau
tidak, bagaimana kondisi keluarganya, untuk yang mengambil pengasuh atau
pembantu dari agen, kenali agennya dengan benar. Semua itu harus diseleksi
dengan baik, dan tetap waspada terhadap karyawan kita,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakannya, jagngn
pernah memberikan kesempatan dan memancing seseorang untuk melakukan aksi
penculikan. Orang tua harus tetap mengawasi anak. “Sesibuk apapun, sempatkan
untuk berkomunikasi, untuk mengatahui keberadaannya dan meyakinkan anak dalam
keadaan aman,” jelasnya.

Ir. Meli berbagi tips agar anak
terhindar dari aksi penculikan

1.    
Ajarkan anak tentang keamanan diri sendiri.
Katakan kepada anak jangan mau pergi dengan orang yang tidak dikenal, meskipun
orang tersebut terlihat meyakinkan dan baik.

2.    
Ajarkan pergi menuju pusat keramaian jika merasa
ada yang mengikuti. Misalnya ke restoran, sekolah, pasar, recepsionis dan
sebaginya.

3.    
Ajarkan untuk menjaga jarak dengan orang asing,
dan ajarkan berteriak dengan keras jika orang asing itu mengganggu.
   

4.    
Bermain dan berjalan dengan teman-teman secara
begerombol jangan sendirian.

5.    
Ajarkan sikap-sikap yang tidak boleh dilakukan
oleh orang lain terhadap diri anak, terutama terhadap bagian
tubuhnya.  

6.    
Ceritakan studi kasus tentang penculikan dan
cara penculikan kepada anak.

7.    
Ajarkan untuk tidak menerima dan mengkonsumi
pemberian orang lain. Ajarkan cara penolakan yang sopan, dan jika dipaksa
ajarkan anak untuk memegangnya saja, atau dimasukan ke dalam saku dan tidak
memakan atau meminumnya.  .
           

8.    
Ajarkan dan beritahu nama orang tua, tempat
tinggal atau no telepohone. Hal ini memudahkan jika anak tersesat.

9.    
Jika sudah terjadi penculikan, orang tua harus
beranikan melaporkan kepada yang berwajib meskipun mendapatkan ancaman. (man)