Wafer Spesial Untuk Domba

Wafer Spesial Untuk Domba

Berita

Kontribusi produksi domba bagi konsumsi daging nasional, termasuk di kota DKI Jakarta, masih sangat kecil. Menurut Statistik Peternakan, total populasi domba di Indonesia hanya mencapai sekitar 8,6 juta ekor, sedangkan populasi domba di DKI Jakarta hanya mencapai sekitar 1.500 ekor pada tahun 2006. Apabila potensi domba dikelola dengan baik dan profesional, terutama dalam hal pakan, maka sektor peternakan ini akan memberikan kontribusi peningkatan kesejahteraan peternak, khususnya peternak domba di DKI Jakarta.
 
Banyaknya pasar-pasar tradisional di Jakarta memungkinkan ketersediaan limbah sayuran yang kontinyu.  Limbah sayuran pasar  sebagai bahan baku pakan memiliki beberapa keuntungan yaitu memiliki nilai ekonomis, menghasilkan berbagai produk yang berguna, harganya murah, mudah diperoleh, dan tidak bersaing dengan kebutuhan manusia. Selain itu juga dapat mengurangi masalah pencemaran lingkungan akibat sampah.

Dr.Ir. Yuli Retnani, M.Sc., Dosen dan Peneliti Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (FAPET- IPB), mengemukakan hal itu sebagai hasil penelitiannya.
Hanya saja menurut Dr. Yuli, limbah sayuran juga memiliki kelemahan- kelemahan, diantaranya mudah busuk, voluminus (bulky) dan ketersediaannya berfluktuasi, sehingga perlu teknologi pengolahan pakan untuk membuat bahan menjadi awet, mudah disimpan dan mudah diberikan pada ternak.

Pasokan sayuran di Pasar Induk Kramat Jati DKI Jakarta misalnya, tersedia 19 jenis sayuran, dengan potensi menjadi limbah sayuran cukup tinggi. Jenis sayuran tersebut antara lain: kol bulat, kembang kol, nangka muda, bawang merah, bawang putih, cabe, sawi, buncis, wortel, tomat, kentang, daun bawang, daun seledsri, kelapa, kacang panjang, jagung, tauge, dan jahe.

Banyaknya potensi limbah sayuran yang jika tidak dimanfaatkan, hanya akan mengeluarkan bau tidak sedap dan menambah volume tempat pembuangan akhir (TPA). Dr Yuli memanfaatkan limbah sayuran pasar tersebut sebagai pakan ternak dalam bentuk wafer.
Wafer hasil penelitian Dr. Yuli menggunakan kelobot jagung, limbah tauge kacang hijau, dan daun kembang kol. Menurut hasil penelitiannya, kandungan nutrisi ketiga limbah sayuran ini cukup tinggi dibanding limbah sayuran lainnya.

Wafer dibuat dengan menggunakan teknologi proses pengolahan yang mudah dan murah. Semua limbah sayuran terlebih dulu dirajang halus, kemudian dikeringkan dan digiling. Terakhir, masuk pengepresan dengan mesin kempa, sehingga menjadi produk yang memiliki bentuk yang kompak dan siap diberikan pada ternak.

Dr Yuli membuat tiga formula wafer. Wafer A terbuat dari rumput lapang dan konsentrat, wafer B terbuat dari 50 persen rumput lapang dan limbah sayuran pasar, ditambah konsentrat. Wafer C terbuat dari 100 persen limbah sayuran pasar, ditambah konsentrat.

Dr Yuli melakukan uji palatabilitas untuk mendapatkan wafer limbah sayuran terbaik. Selanjutnya, kandungan protein kasar ransum berdasarkan hasil analisis Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Fapet IPB adalah sebagai berikut: wafer A (10,47 persen), wafer B (15,03 persen), dan wafer C (15,58 persen). Protein sangat penting untuk meningkatkan berat badan atau daging domba. Wafer ini telah diujikan pada ternak domba yang ada di Peternakan Mitra Tani Farm (MT Farm) Ciampea, Kabupaten Bogor.

Diketahui, konsumsi wafer B lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lain disebabkan karena kandungan nutrisi (protein kasar) ransum wafer B lebih mendekati dengan kebutuhan protein domba yang sedang tumbuh. Menurut National Research Council (NRC – 1985) bahwa kebutuhan protein domba yang sedang tumbuh sebesar 14%.

Lebih lanjut Dr. Yuli menjelaskan, kualitas nutrisi limbah sayuran pasar induk yang terbaik adalah daun kembang kol dan limbah kecambah kacang hijau. Kualitas fisik terbaik wafer limbah sayuran didapatkan pada wafer limbah kelobot jagung 100 persen. Sedangkan kualitas nutrisi wafer limbah sayuran terbaik didapatkan pada 25 persen kelobot jagung, 50 persen limbah kecambah kacang hijau dan 25 persen daun kembang kol.

“Palatabilitas wafer yang mengandung 25 persen kelobot jagung tambah 50 persen limbah kecambah kacang hijau tambah 25 persen daun kembang kol lebih disukai ternak domba, jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya,” ujar Dr. Yuli.

Pertambahan bobot badan domba yang diberi wafer rumput lapang dan wafer limbah sayuran tidak berbeda nyata. Namun pertambahan bobot badan tertinggi dicapai pada domba yang mendapatkan pemberian wafer pakann limbah sayuran pasar 50 persen dan rumput lapang 50 persen.

Hanya saja teknologi ini belum bisa diadopsi secara instan. Pasalnya wafer-wafer ini baru sebatas skala penelitian, belum melangkah ke industri. “Perlu dukungan untuk diproduksi secara massal,” kata Dr. Yuli. ***