Dialog RRI: Perubahan Iklim Picu Kenaikan Harga Komiditi Pertanian
Perubahan iklim memicu kenaikan harga komoditi pertanian. Demikian diungkapkan Ketua Departemen Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB, Dr.Dedi Budiman Hakim dalam Dialog Sore Radio Republik Indonesia (RRI), Selasa (12/7) di RRI Bogor. Perubahan iklim atau cuaca mengubah pola tanam pertanian Indonesia. Hal ini menyebabkan kegagalan panen berbagai komoditi pertanian. “Bila petani mendapatkan informasi akurat mengenai perubahan cuaca dan potensi lahan pertanian, tentu petani akan menanam komoditi pertanian yang tepat sesuai kondisi,” ujar Dr.Dedi. Mengenai hal ini pemerintah bisa menugaskan Badan Meteorologi dan Kementrian Pertanian untuk membuat informasi yang dapat diakses via internet di seluruh Indonesia. Kenaikan cabai hanyalah salah satu contoh. Kenaikan harga yang drastis tidak mudah segera diturunkan dengan menambah pasokan cabai di pasar. Berbeda dengan beras yang dikelola Badan Usaha Logistik (BULOG). Oleh karena itu diperlukan manajemen potensi sumber daya pertanian.
Beberapa faktor lain yang mendukung kenaikan harga komoditi pertanian diantaranya pemberian gaji 13 Pegawai Negeri Sipil (PNS), kenaikan harga tarif dasar listrik (TDL), menjelang ibadah puasa Ramadhan, dan imbas krisis ekonomi Eropa. Faktor terakhir pengaruhnya lebih kecil dibandingkan efek krisis ekonomi Amerika.
Dr.Dedi menyampaikan untuk mengantisipasi kerugian akibat pertanian monokultur, petani dapat menanam secara tumpangsari. “Pada saat menunggu masa tanam, pemerintah bisa membuka lapangan kerja sampingan untuk petani, sehingga mereka mendapatkan tambahan penghasilan.” Pemerintah daerah dapat membuka Usaha Kecil Menengah (UKM) di daerah pinggiran urban, agar petani tidak melakukan urbanisasi menuju perkotaan. Pemerintah daerah bekerjasama dengan bank pemerintah daerah mengucurkan bantuan modal bagi petani. (ris)
