Pelatihan dan Lokakarya Manajemen Mutu Pendidikan Tinggi di Momen Dies Ke-3 Fema IPB
Mengambil momen Dies ke-3, Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB bertekad merapatkan barisan dan meningkatkan kinerja dalam menyiapkan lulusan yang berkualitas sesuai kompetensi masing-masing. Selama tiga tahun berjalan, Fema IPB sebagai salah satu unit akademik di IPB telah menerapkan sistem kurikulum berbasis kompetensi melalui penyelenggaraan tiga mayor, yaitu: Ilmu Gizi, Ilmu Keluarga dan Konsumen, serta Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Fakultas termuda di IPB ini mencanangkan kebijakan mutunya, yakni secara efisien dan akuntabel menghasilkan lulusan dan IPTEKS bermutu bagi kualitas kehidupan berkelanjutan.
Salah satu upaya Fema untuk mewujudkan kebijakan mutunya adalah dengan menggelar serangkaian diskusi pengembangan manajemen mutu. Pada Kamis-Jum'at, 14-15/8 bertempat di Ruang Diskusi Departemen Gizi Masyarakat Fema IPB, sebuah Pelatihan dan Lokakarya bertajuk "Pengembangan Manajemen Mutu Pendidikan Tinggi untuk Peningkatan Kualitas Lulusan dan Inovasi Fema" digelar. Kegiatan yang diikuti oleh tim kerja di tingkat departemen maupun fakultas ini dibuka oleh Dekan Fema IPB, Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MS. Dalam sambutannya, Dekan menandaskan bahwa Fema terus berupaya memperbaiki diri, baik dari aspek sumberdaya manusia maupun aspek kelembagaan. "Nilai-nilai baik yang sudah ada, mari kita teruskan dalam rangka peningkatan mutu Fema. Kita punya tanggung jawab untuk mencerdaskan baik mahasiswa, dosen, maupun pegawai sehingga bisa berkontribusi bagi kemajuan bangsa," ungkap Dekan.
Prof. Dr. Margono Slamet, MSc (Guru Besar Fema IPB) berkesempatan menjadi keynote speaker dalam acara tersebut. Dalam paparannya, sosok yang banyak terlibat di level nasional tentang mutu pendidikan tinggi ini menandaskan dua hal yang terkait dengan mutu pendidikan tinggi. Pertama, kemampuan institusi dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi, dengan 8 indikatornya, yakni: integritas; visi, tata pamong (governance); sumberdaya manusia; sarana dan prasarana; sumberdaya keuangan; sistem informasi; serta keberlanjutan program. Kedua, efektivitas pembelajaran, dengan 8 indikatornya, yakni: mahasiswa; kurikulum; sistem pembelajaran; penelitian dan pengabdian kepada masyarakat; sistem penjaminan mutu; sistem pengelolaan akademik; suasana akademik; serta mutu program studi.
"Manajemen mutu juga harus disertai dengan sistem monitoring dan evaluasi serta tindak lanjut. Di sini diperlukan continuous improvement." Dalam rangka peningkatan mutu, tantangan IPB ke depan menurut Prof. Margono Slamet adalah perlu perumusan yang jelas apa yang harus dilakukan dan siapa yang harus melakukan tugas-tugas tersebut.
Lokakarya menghadirkan sejumlah narasumber diantaranya: Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan IPB, Prof. Dr. Ir. Yonny Kusmaryono, MS yang menyampaikan pengantar diskusi "Pengembangan Organisasi"; Direktur Pengkajian dan Pengembangan Akademik IPB, Ir. Lien Herlina, MSc dengan topik "Kualitas Belajar Mengajar"; Dekan Fema IPB, Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MS dengan topik "Pengembangan Kepemimpinan dan Karakter Kewirausahaan Fema IPB"; serta Wakil Dekan Fema IPB, Dr. Ir. Titik Sumarti, MS dengan topik bahasan "Kualitas Penelitian dan Pengabdian Masyarakat". Turut hadir untuk memberikan sumbangan pemikiran: Prof. Dr. Ir. Hidayat Syarif, MS (Guru Besar Fema IPB) dan Dr. Ir. Agus Purwito, MSc.Agr (Kepala Kantor Manajemen Mutu IPB). (nUr)
