Rempah adalah Komoditas Paling Diburu Dunia
Rempah memiliki nilai ekonomis tinggi dan historis panjang untuk negara Indonesia, dan yang pasti saat ini Indonesia masih dikenal sebagai negara penghasil rempah. Indonesia pun sampai dikenal dengan spices Island, ini menjadi salah satu alasan kenapa Portugis masuk ke Indonesia. Demikian dikatakan Direktur Budidaya Tanaman Rempah dan Penyegar Kementrian Pertanian RI, Ir.Azwar AB,M.Si dalam acara talkshow yang bertajuk “Nasib Rempah Indonesia” di Agrinex Expo 2012 di Jakarta Convention Center(1/3) yang terselenggara berkat kerjasama Institut Pertanian Bogor (IPB) Performax dan Kementan.
Ekspor rempah Indonesia saat ini bisa mencapai 60 triliun. Rempah dinilai sangat menjanjikan. Peluang bisnisnya banyak. Arahnya bisa ke farmasi dan bahkan makanan. Hanya saja, Ir. Azwar menyampaikan di sektor hulu maupun hilir harus banyak didukung oleh berbagai sektor termasuk industri.
Salah satu kendala pengembangan rempah Indonesia adalah banyaknya konversi yang awalnya perkebunan tanaman rempah dikonversi menjadi sawit misalnya dan dari 126 komoditas yang digarap hanya 15,5 persen. Ditandaskan Azwar, bahwa kebutuhan dunia akan rempah sangat pesat bahkan di Korea Selatan akan dikembangkan kawasan industri kosmetik. Ditambahkan oleh Dewan Rempah Indonesia Dr.Ir.P Asril Wahid bahwa di Eropa ada tren untuk menggunakan stick kayu manis untuk mencegah meningkatnya gula darah. Untuk komoditas pala, kayu manis dan cengkeh, Indonesia sebagai produsen utama dunia.
Asril mengatakan pentingnya pemerintah dan para akademisi untuk memberikan nilai tambah terhadap komoditas rempah Indonesia, seperti contohnya kelapa,hampir semua bagian dapat dimanfaatkan dari buah kelapa. Potensi ini yang harus digali untuk tanaman rempah. Selain itu harus ada sinergi antara petani dan industri.
Hadir dan turut berpartisipasi dalam talkshow adalah Adi sasono. Ia menyarankan bahwa ke depan dari aspek tata niaga harus diperhatikan, karena dengan ini kita dapat meningkatkan rempah. Lebih lanjut ia menyarankan Edukasi Standarisasi Produk untuk para petani, dan yang terpenting adalah petani untuk bisa dibayar segera. Selama ini petani hanya mendapat sebagian kecilnya. “Sekitar 70 % biasanya milik sektor perdagangan, “ jelasnya. (dh)
