Indonesia Salah dalam Memahami Makna Koperasi

Indonesia Salah dalam Memahami Makna Koperasi

Berita

Indonesia Salah dalam Memahami Makna Koperasi

Saat ini koperasi kurang menarik di mata kalangan intelektual. Karena salah dalam mengerti dan memahami  koperasi, maka pengembangan koperasi di Indonesia tidak berjalan sebagaimana mestinya. Koperasi adalah suatu organisasi yang unik,yang harus dipahami dan dikembangkan dari keunikannya. Kesalahpahaman ini mengakibatkan salah urus.

Hal ini disampaikan oleh Pakar Ekonomi IPB, Dr. Lukman M. Baga di Dialog Sore di RRI Bogor (12/7) dalam rangka memperingati Hari Koperasi yang ke 64.   

Bung Hatta, Bapak Koperasi ini pernah belajar tentang koperasi di Belanda dan negara Eropa lainnya. Beliau sangat mengerti tentang koperasi. Waktu itu, Bung Hatta terobsesi untuk membangun koperasi di Indonesia karena harusnya Indonesia lebih bisa mengembangkan koperasi karena unsur kerjasama dan gotong royong yang dijunjung tinggi di Indonesia.

Sementara jika dilihat kondisi saat ini, pendidikan tentang koperasi diberikan sewaktu SD, SMP dan SMA  tetapi jiwa koperasinya itu tidak terbentuk. Hal ini sangat disayangkan karena hasilnya adalah salah paham dalam memaknai koperasi yang ujungnya menjadi salah urus.

Sebelum masuk ke wilayah salah urus (manajemennya yang salah), menurut Dr. Lukman, ada masalah lebih besar yang belum kita perhatikan yaitu kurangnya penggerak koperasi. “Sekarang orang sudah punya stigma negatif tentang koperasi. Sementara itu sumberdaya manusia unggul yang mampu menjadi pemimpin lebih memilih lembaga lain untuk mengembangkan dirinya. Koperasi pun kemudian hanya diurus oleh orang-orang yang hanya bermodal semangat, pengetahuan dan keterampilan yang terbatas dalam mengelola koperasi,” ujarnya.

Koperasi dianggap sebagai lembaga yang mampu membantu masyarakat ekonomi lemah. Padahal itu salah, kita melihat bahwa sekarang koperasi itu identik dengan petani, buruh, guru yang rata-rata pendapatannya pas-pasan. Kondisi ini berbeda dengan negara lain, di sana ada koperasi dokter gigi, apoteker, translater, konsultan dan lain-lain. Orang-orang terdidiknya masuk ke koperasi untuk mengembangkan koperasi karena mereka merasakan apapun yang mereka usahakan mereka punya keterbatasan individu sehingga mereka harus bekerjasama dengan yang lain untuk membangun kekuatan yang sinergis.

Di negara yang pertaniannya sudah maju dengan luas lahan ratusan hektar pun butuh koperasi karena tantangan di luar itu jauh lebih besar. Karena tekanan pedagang,walaupun jumlahnya lebih kecil dari petani, sehingga mereka bisa menentukan harga. Hal itu susah ditandingi kecuali kalau mereka bergabung sehingga mereka tidak dipecah belah dan mereka mampu meningkatkan daya tawar mereka.

“Inti dari koperasi adalah membangun kekuatan yang sinergis. Sesuatu yang tidak bisa dikerjakan sendirian akan lebih mungkin bila dikerjakan secara bersama-sama. Hanya masalahnya karena stigmanya sudah negatif maka orang-orang terdidik kita tidak melirik itu. Akhirnya orang-orang yang mengerjakannya adalah orang-orang yang relatif rendah SDMnya. Akhirnya stigma turunannya adalah SDM yang membina koperasi adalah SDM yang lemah,” jelasnya.

Namun jangan berputus asa dulu, menurutnya, beberapa waktu lalu Dr. Lukman mendapat kabar bahwa beberapa intelektual kita akan membentuk Masyarakat Koperasi Indonesia. Ini suatu tren baru, mungkin ada suatu bentuk kesadaran bahwa memang selama ini kita salah dengan mengabaikan koperasi. Timbul kesadaran baru di kalangan orang terdidik dan orang yang memang memiliki kemampuan memimpin yang bagus. (zul)