Bedah Editorial Media Indonesia di IPB
Indonesia dikenal sebagai Negara yang kaya akan sumber daya alam, namun kondisi ini tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi saat ini. Sebagian besar kecukupan pangan di Indonesia masih mengandalkan impor dari Negara lain. Pemerintah Indonesia pasca reformasi dinilai tidak fokus dalam mengatasi pertanian di Indonesia, Demikian dikatakan Direktur Pemberitaan Metro TV yang juga alumni IPB, Suryopratomo dalam Bedah Editorial Media Indonesia Goes to Campus bertajuk "Negeri Kaya Nan Rawan Pangan" yang diselenggarakan Media Group di Auditorium Andi Hakim Nasution Kampus IPB Darmaga, (14/3.)
Lebih lanjut, Suryopratomo mengatakan hal tersebut terbukti saat ini sekitar 100 ribu lahan pertanian kualitas nomor satu berubah menjadi perumahan. Selain itu penelitian-penelitian pertanian tidak berkembang, kurangnya kesempatan/insentif kepada petani untuk menggeluti bidang pertanian.
Pemerintah tadinya ingin melakukan transformasi dengan penguatan industri tetapi melupakan sektor pertanian. Padahal menurutnya di Negara-negara maju sektor pertanian digarap sangat serius, contohnya China. Saat ini China telah mampu menghidupi rakyatnya dari hasil pertaniannya.
Dikatakan oleh Tommy, panggilan akrab Suryopratomo, sudah saatnya Indonesia kembali lagi pada jati diri bangsa yaitu bangsa yang sebagian besar masyarakatnya hidup dari pertanian.
Acara Bedah Editorial Media Indonesia goes to campus ini merupakan acara rutin perluasan dari Editorial Media Indonesia di Stasiun Televisi hanya saja dibawa ke ruang public seperti perguruan tinggi-perguruan tinggi.
Acara ini disambut baik oleh Rektor IPB, Prof. Herry Suhardiyanto. Menurutnya Concern mengenai pangan ini penting. Ini sejalan dengan bidang ilmu yang ditekuni di IPB. IPB bersyukur menjadi bagian dunia internasional yang berperan dalam menghadirkan solusi pemenuhan kebutuhan pangan.Selain itu Rektor berharap mahasiswa IPB dapat memberikan sumbangan pemikiran dan dapat memberikan solusi bagi masyarakat.
