Workshop Kerjasama IPB dan Nara Institute of Science and Technology (NAIST) Jepang

Workshop Kerjasama IPB dan Nara Institute of Science and Technology (NAIST) Jepang

Berita

Dalam rangka kerjasama penelitian, Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi IPB (Indonesia), Nara Institute of Science and Technology (NAIST, Japan), University of Ryukyus (Japan), dan Plant High-Tech Institute Ltd (PhiT, Japan), mengadakan workshop internal untuk progress report dari penelitian yang berjudul “Molecular breeding of high-yield energy plant and reforestation” di Hotel Salak pada Rabu 5 Januari 2011.  Penelitian ini didanai oleh Japan Science and Technology (JST) dalam rangka Asia and Africa Science and Technology Promotion Program, di bawah Kementerian Pendidikan, Pemuda, Olahraga dan Teknologi (MEXT, Japan) dari tahun 2008 sampai dengan 2011. Satu mitra dalam penelitian tersebut yaitu Department of Agricultural Research, Ministry of Agriculture, Republic of Botswana tidak dapat hadir dalam workshop. Workshop dengan topik: “Molecular Breeding of Jatropha curcas” tersebut juga dihadiri oleh Peneliti dari PPSHB IPB, Officer dari Clean Development Management Consulting, Officer dari JST,dan peneliti dari RIKEN Jepang, dan Kasetsart University, Thailand dengan total peserta berjumlah 20 orang.

Workshop dibuka oleh pimpinan proyek, Prof.  Akiho Yokota dari NAIST, yang dilanjutkan dengan pembahasan Project 1: Improvement of Jatropha Productivity by Genetic Engineering oleh Dr. Kinya Akashi (NAIST) dan Practical Comparison of Genetic Engineering Methods of Jatropha Plant

oleh Dr. M. Kajikawa (NAIST). Project 2: Enhancement of Photosynthesis by Chloroplast Transformation oleh Dr. K. Tomizawa (PhiT). Project 3: Field Evaluation of Productivity of Genetic Manipulated Jatropha oleh Prof. Y. Kawamitu (Univ. Ryukyus); Hyper Application of Jatropha Biomass for Jatropha Field Amendment oleh Prof. M. Ueno (Univ. Ryukyus); Jatropha School oleh W. Jaiphong (Kasetsart University).

Dari hasil workshop, officer dari JST menilai bahwa penelitian ini telah berjalan dengan sangat baik dengan hasil yang memuaskan. Karena penelitian ini akan berakhir pada Oktober 2011, maka officers JST menyarankan untuk melanjutkan penelitian ini dengan skema pendanaan yang lain. Dalam diskusi, Kepala PPSHB IPB, Dr. Suharsono, mengusulkan agar ada skema pendanaan tertentu untuk melengkapi peralatan laboratorium di IPB, khususnya di PPSHB. Berlandaskan pada hasil penelitian yang sudah didapat konsorsium ini akan mengajak peneliti lain seperti dari RIKEN dan pihak swasta seperti PT Jedo yang bergerak di perkebunan Jatropha di Indonesia untuk menyusun proposal penelitian yang akan diusulkan ke Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri (METI, Japan). Dari penelitian ini diharapkan mendapatkan varietas Jatropha yang berproduksi tinggi untuk diaplikasikan di industri di Indonesia. Penelitian dasar untuk perakitan Jatropha unggul melalui molecular breeding akan dilakukan di NAIST dan di PPSHB IPB sedangkan pengembangan serta perbanyakannya akan dilakukan di IPB.
   
Setelah workshop, malam harinya welcome dinner dan ramah tamah di Hotel Salak yang dihadiri oleh seluruh peserta workshop dan Wakil Rektor Bidang Riset dan Kerjasama (Dr. Anas M. Fauzi), dan  Direktur Riset dan Kajian Strategis (Prof. Iskandar Z. Siregar). Dalam acara dinner tersebut, juga didiskusikan peluang kerjasama lainnya secara informal.

Kegiatan workshop dilanjutkan dengan field trip ke Kebun Percobaan Jatropha di Pakuwon, Sukabumi milik Balai Penelitian Tanaman Perkebunan, Kementerian Pertanian pada Kamis 6 Januari 2011. Selain mengunjungi kebun Jatropha, peserta workshop juga mendapat penjelasan penggunaan alat pemrosesan biji jarak menjadi minyak bakar. Demonstrasi penggunaan minyak bakar yang berasal dari Jatropha juga dilakukan dengan mesin diesel untuk memompa air kolam. Dengan adanya demonstrasi ini para peneliti Jatropha bertambah keyakinannya untuk merealisasikan Jatropha sebagai sumber energi yang sangat potensial di masa yang akan datang. Problem terbesar dari pemanfaatan Jatropha sebagai sumber energi adalah produktivitasnya yang masih rendah. Oleh sebab itu, konsorsium ini berkonsentrasi untuk mengatasi problem ini.