Susu Formula Tak Bisa 100 Persen Steril
Bagaimana pun sterilnya produk susu dan makanan bayi, masih ada peluang terkontaminasi bakteri. Terutama bila kita tidak memperhaikan cara penyajiannya yang baik. " Air Susu Ibu merupakan harga mati untuk kesehatan dan keamanan tumbuh kembang bayi," kata Peneliti dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. drh. Sri Estuningsih dalam acara Dialog Interaktif ‘Keamanan Pangan pada Produk Susu dan Makanan Bayi' Sabtu (5/4) di Auditorium Rektorat Andi Hakim Nasoetion Kampus IPB Darmaga. Dialog ini disenggarakan Mahasiswa Program Profesi Pendidikan Kedokteran Hewan Fakultas Kedokteran Hewan IPB.
Menurut Estu, tujuan penelitian yang dilakukannya sebagai studi banding atas hasil penelitian peneliti di Negara Eropa. Peneliti Eropa menemukan adanya indikasi Enterobakter sakazakii hidup dalam produk susu dan makanan bayi. "Tidak ada tendensi untuk memojokkan pihak produsen susu dan makanan bayi tertentu," tegas Estu.
Ahli Susu IPB, Prof.Dr.drh.Hj. Mirnawati Sudarwanto memaparkan bahaya-bahaya biologis dan kimiawi susu bubuk formula bayi. Mirnawati mengatakan produk susu bubuk formula dan makanan bayi memiliki efek membahayakan, jika proses pengolahan tidak dilakukan dengan baik. Tidak hanya bakteri E.Sakazakii saja yang berbahaya, bahkan Salmonella, terkategori bakteri utama yang harus diwaspadai. "Jika bakteri ini ditemukan dalam produk makanan maka akan langsung ditarik dari peredaran," tandanya.
Peneliti Mikrobiologi Pangan dari Southeast Asian Food Science and Technology (SEAFAST) Center IPB, Dr. Ir. Ratih Dewanti menambahkan dalam evaluasi keamanan pangan dibutuhkan analisis resiko dan manajemen resiko terhadap produk susu, makanan bayi dan produk pangan lainnya. Analisis ini diperlukan untuk melihat sejauh mana efek yang di timbulkan oleh produk. "Upaya ini perlu didukung oleh pemerintah sebagai pembuat kebijakan secara sentral," imbuhnya.
Kepala Biro Hukum dan Humas Badan Pengawas Obat dan Makanan, Kusasi Sakur, SH mendukung upaya peneliti IPB yang bertujuan memberikan informasi ilmiah kepada masyarakat. Hal senada juga disampaikan Aktivis Sekaligus Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Indah Sukmaningsih. Menurut Indah, penelitian IPB patut diperhitungkan dilihat dari resiko yang ditimbulkan kasus ini. "Kalau memang ada kasus seperti ini, seharusnya pemerintah senang, karena terkait upaya penyelamatan masyarakat. Hasil temuan memang beresiko tinggi walaupun masih sedikit,"ujarnya.
Acara yang dihadiri 200 orang gabungan mahasiswa S1, pascasarjana, jajaran Perhimpunan Istri Dokter Hewan Indonesia (PIDHI), Gabungan Organisasi Wanita (GOW) se-Kota Bogor, serta ibu-ibu PKK di daerah Bogor ini dibuka oleh Dr.drh.Bambang Ponco Priyo yang mewakili Dekan Fakultas Kedokteran Hewan IPB. (my)
