Sambung Rasa RRI Mempertemukan Prof. Hermanto Siregar dengan Pelaku UKM
”Bagaimana Usaha Mikro Menyikapi Krisis Finansial yang Mengglobal?” menjadi
bahasan menarik acara Sambung Rasa RRI yang disiarkan on air secara nasional melalui PRO 3 FM Jakarta. Siaran radio yang
dimulai tepat pukul 05.00 WIB ini, menghadirkan narasumber Wakil Rektor Bidang
Sumberdaya dan Pengembangan IPB, Prof.Dr.Ir. Hermanto Siregar, M.Ec., yang
dipandu oleh presenter RRI, Muchlis Abdilla.
Turut hadir dalam kesempatan ini Lurah Kebon Pedes Kecamatan Tanah Sareal Kota
Bogor Maman Kadarisman, sejumlah pelaku UKM Kebon Pedes, Kabid Humas Sekretaris
Eksekutif IPB Ir. Henny Windarti, M.Si., dan para teknisi RRI Bogor. Mereka berkumpul
di Aula RRI Bogor Jln. Pangrango No. 34 yang terhubung ke seluruh RRI se
Indonesia.
Prof. Hermanto yang juga pakar ekonomi ini dalam prolognya memaparkan peristiwa
krisis moneter tahun 1997 yang pernah dialami bangsa ini, sesungguhnya telah
banyak memberikan pelajaran bagi para pelaku usaha. Pada saat itu, lanjutnya,
usaha yang dapat bertahan dari krisis tersebut adalah UKM dan bidang pertanian.
”Saat krisis melanda, tenaga kerja di bidang pertanian yang awalnya 12
persen justru meningkat menjadi 15 persen. Begitu pula untuk UKM, saat itu banyak
yang banting setir menjadi usaha-usaha kecil,” kata Prof. Hermanto, seraya
mengatakan bahwa salah satu kiat yang diperlukan untuk dapat bertahan dari
krisis ini adalah pemerintah membantu dalam permodalan.
Permodalan ini pula yang ternyata dialami oleh para pelaku UKM Kebon Pedes
yang pagi itu hadir. Maman Suratman misalnya, pensiunan Good Year yang kini
bergerak di bidang makanan ini berharap mendapatkan pinjaman lunak untuk modal
usaha.
”Mulai buka usaha tahun 2003, dengan satu orang karyawan dan modal awal Rp
5 juta. Tahun 2009 ini, Alhamdulillah sudah ada peningkatan karyawan dan
penjualan. Karyawan sudah berjumlah 26 orang, 15 orang diantaranya saya rekrut
dari pemuda Karang Taruna dan pinjaman dari Bank pun sudah mencapai Rp 100 juta.
Untuk penjualan, selain ke kota-kota besar di Indonesia, juga sudah ekspor ke
Jepang. Namun hingga kini, belum ada bantuan dari pemerintah. Padahal kita
membina pekerja yang tidak sedikit,” tutur Maman yang juga Ketua DKM Masjid
An-Nuur Kebon Pedes.
Senada dengan Maman, Asep Makbul pelaku UKM yang memproduksi sandal untuk
hotel ini mengaku terbentur dengan modal. Setiap kali ia mengajukan kredit ke
Bank, selalu berujung penolakan, karena tidak bisa memenuhi agunan yang
dipersyaratkan. ”Saya sering pusing dengan banyaknya orderan. Akhirnya saya bilang
saja, pesanan lagi penuh,” ujar Asep yang merupakan korban PHK pada krisis
moneter 97.
Lain lagi dengan Langgeng Wibowo, pengrajin kaos ini tetap optimis dan
gigih dalam bekerja walau mengaku harus
selalu menekan cost operasional. Pasalnya,
dalam usahanya ini Langgeng hanya mengandalkan modal yang dimilikinya dengan
nilai yang tidak begitu besar. Kepada Prof. Hermanto, pensiunan Perhubungan
Laut ini mengharapkan IPB memberikan pelatihan bagaimana cara memenej keuangan dan
mengelola usaha secara profesional.
Selain mereka yang hadir di studio, para pendengar setia RRI juga turut
berpartisipasi. Nana di Cirebon misalnya, ia mengeluhkan kendala yang
dihadapinya, yaitu modal banyak di luar atau di pelanggan, sehingga usahanya
tersendat
Pahlawan ekonomi
Mendengar penuturan dari para pelaku UKM ini, serta merta Prof. Hermanto
menyebut mereka sebagai Pahlawan Ekonomi yang sesungguhnya. Di tengah krisis
finansial seperti saat ini mereka tetap gigih berusaha, bahkan mampu memberikan
lapangan pekerjaan bagi sekitar.
Sementara, terkait modal, Prof. Hermanto menjelaskan skim pemerintah adalah
berupa KUR atau Kredit Usaha Rakyat yang disalurkan melalui perbankan. KUR
menjadi sangat ringan bagi pelaku UKM, karena bunganya disubsidi, sehingga
lebih murah dibanding kredit komersial.
Lurah Kebon Pedes, Maman Kadarisman, menyampaikan hal yang sama, bahwa
pemerintah telah mengeluarkan bantuan modal kepada para pelaku UKM melalui
Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop), dan Program Penanggulangan
Kemiskinan di Perkotaan (P2KP).
Sampai pada kesimpulan, Prof. Hermanto menyebut 3 hal yang harus senantiasa
dijadikan pedoman oleh para pelaku UKM ini, yakni gigih dalam bekerja,
melakukan pantauan terhadap pengembangan pasar, dan membentuk networking dengan cara memanfaatkan
lembaga terdekat seperti perguruan tinggi dan pemerintah daerah.
Pada bagian lain, Prof. Hermanto mengatakan IPB terbuka untuk para UKM
melakukan konsultasi. ”Jika berkeinginan membuat pelatihan atau sebagainya,
bisa menghubungi LPPM IPB,” pungkasnya. (nm)
