Masyarakat Tidak Perlu Galau Dengan Isu Beras Mengandung Arsenik
Peneliti Keamanan Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Yadi Haryadi mengimbau masyarakat untuk tidak risau dengan pemberitaan yang menyebutkan bahwa beras import dari Thailand mengandung arsenik. Pasalnya isu tersebut baru terbukti di Amerika, sedangkan ke Indonesia hingga kini beras tersebut belum ada. Imbauan yang sama ditujukan kepada media massa, untuk tidak langsung memblow-up sebuah pemberitaan yang belum pasti kebenarannya.
“Masyarakat tidak perlu galau. Dan pemberitaan media jangan sampai membuat masyarakat panik,” tandas staf pengajar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) IPB ini, saat jumpa pers di Kampus IPB Dramaga Bogor, Rabu (10/10).
Sebagai antisipasi, Dr Yadi juga mengimbau kepada pemerintah untuk lebih memperketat masuknya bahan pangan ke Indonesia, termasuk dalam hal ini beras. Karena tidak menutup kemungkinan adanya bahan pangan yang tercemar lolos masuk ke Indonesia.
Lebih lanjut Dr Yadi mengatakan, beras yang tercemar arsenik memang sesungguhnya dapat membahayakan tubuh secara kronis yang efeknya baru dirasakan dalam jangka waktu yang lama.
Arsenik kemungkinan ada dalam beras dari sisi budidaya, misalnya tanah tempat menanam padi, dan pupuk yang digunakan. Sementrara dari sisi pengolahan sangat tidak mungkin adanya cemaran arsenik.
Oleh karena itu, Dr Yadi menegaskan, bahwa sebenarnya antisipasi itu tidak hanya pada beras import. Tetapi juga beras produk dalam negeri yang padinya ditanam pada tanah-tanah yang mencurigakan, seperti bekas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) ataupun dekat dengan TPA. Cemaran logam lainnya seperti merkuri yang digunakan pada pengolahan emas secara liar, dimana limbahnya dibuang ke sungai yang mungkin mengairi persawahan. (nm)
