Tekan Angka Kemiskinan, Wabup Agam Kunjungi IPB
Dalam rangka menekan angka kemiskinan di Kabupaten Agam Sumatera Barat, Wakil Bupati Agam, Ardinal Hasan, S.Ag., MM., bersama stafnya dari Dinas Perikanan dan Kelautan, Peternakan, Pertanian dan Bappeda, berkunjung ke IPB, Kamis (19/6) di ruang Rektor, Gedung Andi Hakim Nasoetion Rektorat, Kampus IPB Darmaga Bogor.
Di IPB mereka langsung disambut oleh Wakil Rektor Bidang Sumberdaya dan Pengembangan IPB Prof.Dr.Ir.H. Hermanto Siregar, M.Si., Kepala LPPM Prof. Dr. Ir. Bambang Pramudya Noorrachmat, M.Eng., Wakil Kepala LPPM Bidang Pengabdian Kepada Masyarakat Dr. Ir. Prastowo, M.Eng., Sekretaris LPPM Dr. Suryahadi DEA, Kepala University Farm IPB Dr. Ir. Anas D. Susila, MSi, serta pejabat IPB lainnya.
Dalam paparannya Wabup Agam mengatakan, masyarakat Kabupaten Agam berjumlah kurang lebih 430 ribu jiwa, 23 persennya atau sekitar 100 ribu jiwa adalah masyarakat miskin, dan yang miskin itu kebanyakan adalah petani dan nelayan.
"Potensi pertanian, kehutanan, perikanan dan kelautan di Kabupaten Agam sangat beragam dan berpotesi untuk dikembangkan. Salah satu contohnya, di dataran rendah ada tanaman kelapa dan kelapa sawit, untuk dataran menengah ada palawija serta sayur mayur. Ditambah luas lautnya yang mencapai 43 km persegi. Namun, dari beragam potensi ini tidak ada yang istimewa bagi petani di sana, karena petaninya tidak menikmati hasil bumi yang telah mereka hasilkan sejak dari dulu," kata Wabup Agam.
Kenapa hal ini bisa terjadi, Wabup Ardinal Hasan mengatakan, salah satu penyebabnya ulah tengkulak yang semakin merajalela, tingginya harga pupuk serta monopoli pakan ikan buatan China dan Taiwan di sana.
"Salah satu pemecahannya adalah bagaimana caranya agar para peternak ikan nila di Agam bisa memiliki alat pembuat pakan ikan sendiri. Sehingga mereka tidak tergantung kepada pakan dari China dan Taiwan yang berada di Medan itu," katanya.
Dikatakannya, setiap hari peternak ikan di Desa Maninjau Kabupaten Agam harus menggelontorkan uang sekitar 100 juta ke Medan. Kebutuhan pakan di Desa Maninjau sebanyak 15 ton/ hari.
Menanggapi hal tersebut Wakil Rektor Bidang Sumberdaya dan Pengembangan IPB Prof.Dr.Ir.H. Hermanto Siregar, M.Si., mengatakan, perlunya suatu paradigma baru pertanian, dimana jangan terlalu berfokus pada on farm semata.
"Salah satu contohnya adalah untuk hasil bumi sayur mayur. Jika kita berkutat pada on farm semata maka nilai jual petani akan rendah. Namun, jika paradigma tersebut diubah dan diarahkan pula pada of farm, misalkan untuk packaging, insyallah nilai jual petani akan tinggi," katanya.
Prof.Dr. Hermanto pun menjelaskan, dalam rangka menekan kemiskinan, IPB bisa membantu meningkatkan kualitas masyarakat di sana melalui program Beasiswa Utusan Daerah (BUD).
Usai ramah tamah, rombongan kemudian mengunjungi beberapa fasilitas dan fakultas di lingkungan IPB, diantaranya University Farm, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan serta Fakultas Peternakan. (man)
